Minggu, 18 Desember 2011

Aku Menjual Diriku


Versi Asli

Seorang bertanya dengan terheran-heran kepadaku
"Kenapa kau begitu antusias dalam aktivitas ini?"

Sejenak ku tertegun menyelami pertanyaan seorang kawan
Lalu teringat ocehan banyak orang kepadaku
"Untuk apa melakukan semua ini"
"Apa yang kau dapatkan?"
"Lebih baik kau urus dirimu sendiri"
Begitu banyaknya sampai ku tak ingat

Kawan seringkali kita berdiskusi
Kau menanyakan banyak hal yang engkau baru tapaki jalan ini
Aku hanya menjawab sepengetahuan dan pengalamanku

Dan ketika kau bertanya demikian
Aku pun tak ragu untk berkata
Aku menjual diriku kawan
Karena ku yakin inilah jalan hidupku
Karena ku yakin bersama dakwah ku akan temui impian manisku
Sesuai janji-Nya

Aku banyak menemuinya
Keajaiban yang tak dapat dipercaya orang
Kejadian yang meluluhlantakkan ocehan orang

Semua membuatku semakin tegar dan yakin
Bahwa aku membutuhkan dakwah

Karena perjalanan masih panjang
Karena yang kudapat dan kulakukan baru sedikit
Dan kulakukan baru untuk diriku saja

Aku akan terus menginjakkan kaki disini
Menyemai benih peradaban
Meniti jalan terang masa depan

Bersama kawan seperjuangan yang tak pantang menyerah
Yang selalu menguatkan
Aku menjual diriku untuk-Mu

Demi sebuah cita kehidupan
Mewujudkan mimpi keniscayaan
Islam sebagai soko guru perdaban

Cilandak, 30 November 2011
Eko Wardaya


Jumat, 09 Desember 2011

Blackberry, Tuhan “baru” masyarakat Indonesia

Bulan lalu tepatnya pada tanggal 25 November 2011 kita disuguhkan sebuah tragedi memilukan dan “memalukan”, bagaimana tidak Mall Pacific Palace menjadi saksi banjir manusia calon pembeli Blacberry yang sudah rela mengantri dari kamis malam, padahal penjualan baru dibuka pada Jum’at pukul 09.30. Bak antrian pembagian sembako dan zakat, antrian disana pun berujung tragedi. Demi sebuah gadget baru yang dijanjikan diskon setengah harga membuat banyak masyarakat menjadi “tumbal”. Puluhan calon pembeli mengalami dehidrasi, kram, dan sesak nafas, hingga akhirnya mereka harus dibawa ke ruang medis setempat. Ada juga hal lain yang terungkap di situs kaskus.us, seseorang dengan akun Sayonara meluncurkan iklan yang berjudul, NEED JASA ANTRI BB AT PACIFIC PALACE. Ternyata calo antrian bermunculan untuk sebuah Blackberry yang memang digandrungi masyarakat Indonesia.
            Pertumbuhan penjualan blackberry di Indonesia memang sangat pesat, dari mulai diluncurkan di Indonesia pada tahun 2004, dengan pengguna awal 400.000 orang menjadi 2 juta orang pada akhir 2010. Masyarakat Indonesia yang gemar berjejaring sosial baik itu facebook, twitter, ataupun lainnya mempercepat tumbuh suburnya penjuaan blackberry. Namun ketika kita coba bertanya kepada para pengguna blacberry, apa yang membuat mereka mengandrungi backberry, rata-rata tak lain karena fitur andalannya, yaitu Blackberry Mesengger yang katanya mempermudah dan memperlancar komunikasi dengan rekan mereka. Banyak juga yang berkata bahwa mereka dengan “terpaksa” membeli blackberry karena rekan sekantor mereka semuanya pengguna backberry, bahkan ada seorang mahasiswa yang mengatakan, jika tidak menggunakan BB ia akan ketinggalan informasi kampusnya. Rupa-rupanya kebutuhan informasi dan komunikasi  berubah menjadi kebutuhan akan gengsi pula. Hal-hal ini merupakan penyebab utama blackberry di jadikan genggaman utama beberapa segmen masyarakat Indonesia, seperti pegawai kantor, pejabat, politisi, pengusaha, pelajar, dan mahasiswa.
            Namun ada sisi lain dari para pengguna blackberry ini, alasan kebutuhan yang didengung-dengungkan selama ini menjadikan mereka tergantung pada benda ini. Sampai ada sebuah kisah sindiran, alkisah ada seorang istri yang meminta kepada Aladin bahwa ia ingin disaat ia bangun tidur suaminya bisa selalu ada didekatnya, ketika pergi kemanapun suaminya selalu disampingnya, dan Aladin mengabulkan permintaan wanita tersebut dengan mengubah wanita tersebut menjadi sebuah blackberry. Ya, itulah cermin sisi lain pengguna blackberry, sebelum tidur, bangun tidur, bahkan ke kamar mandi pun rasanya hampa jika tidak mengutak-atik BB yang ia punya. Imbas dari hal itu, kehidupan sosial pun terabaikan, di angkot, bus, kereta api, orang-orang semakin cuek dengan kejadian disekitar mereka, mereka lebih memilih memelototi blackberry daripada bertegur sapa dengan orang disebelahnya. Sambil jalan saja mereka masih sempat melirik gadget kepunyaanya. Tak jarang ada orang yang tak sadar ia sedang disapa orang didekatnya atau ada rekan satu perusahaannya sedang duduk disebelahnya dalam satu bus. Blackberry  mengalihkan dunia mereka ke dunia fantasi dan dunia autis sosial.
            Saat ini blackberry menjadi lebih dekat dengan penggunanya dibanding keluarga mereka sendiri atau bahkan Tuhan sekalipun. Kejadian di Mall Pacific Palace, iklan Kaskus dan beberapa bagian cerita di atas menggambarkan bahwa masyarakat Indonesia yang notabenenya adalah pengguna blackberry menjadikan blackberry “Tuhan” baru mereka yang akan memberi kesenangan, ketenteraman jiwa, sampai rezeki berupa penghasilan. naudzubillah hi min dzalik. Blackberry seakan ingin membawa masyarakat Indonesia kembali kepada tatanan masyarakat animisme yang mempercayai bahwa semua benda di dunia ini mempunyai jiwa yang mesti dihormati. Mayoritas pengguna terbawa dari sebuah kebutuhan menjadi gengsi selanjutnya menjadi bentuk “penuhanan” secara tidak sadar. Tidak semua memang pengguna Blacberry seperti yang sudah diutarakan di atas, tulisan ini hanya sekedar menjadi pengingat akan dampak negatif yang telah muncul. Semoga kita terhindar dari petaka dunia di era gadget ini. Wallahu’alam bishawab
Bogor, 2 Desember 2011
Eko Wardaya

Bogor Kota Halal Seakan Utopia

PBB melalui Resolusi 58/4 pada tanggal 31 Oktober 2003 menetapkan setiap tanggal 9 Desember sebagai Hari Anti Korupsi Se-Dunia. Langkah tersebut dilakukan untuk lebih meningkatkan kewaspadaan atas bahaya korupsi dan untuk meningkatkan peran United Nation Convention Againts Corruption (UNCAC) dalam upaya memerangi dan mencegah korupsi. Berbagai upacara seremonial dilakukan dalam memperingati Hari Antikorupsi Se-Dunia termasuk di Indonesia. Bertepatan dengan persiapan menyambut Hari Antikorupsi Se-Dunia, pada tanggal 28 November 2011 KPK memaparkan hasil survei integritas Nasional 2011 dengan indeks rata-rata nasional mencapai 6.31 poin. Mohs Jasin dalam paparannya, survei integritas ini dilakukan kepada 89 instansi  yaitu 22 instansi pusat, 7 instansi vertikal, dan 69 instansi pemerintah daerah. Hasilnya menunjukkan masih ada instansi atau pemda yang hanya mampu mencapai poin di bawah rata-rata standar nasional yaitu 28 instansi atau pemda.

Bagaimana Kota Bogor?
            Ternyata Kota Bogor menempati 10 besar Kota terkorup di Indonesia. Sungguh sangat memilukan Bogor yang memakai motto Kota Beriman dan ingin merealisasikan diri sebagai Kota Halal 2012 (sebelumnya telah dideklarasikan) lagi-lagi mendapat hambatan karena kelalaian Pemkot sendiri. Bila di Depok tepuk tangan menyambut hasil survei integritas yang menempatkan Kota Depok pada urutan pertama Kota Terkorup, bagaimana masyarakat Bogor akan bertindak?
            Survei ini bertujuan mengidentifikasi sejumlah kelemahan termasuk praktik penyuapan dalam layanan publik. Berarti inilah gambaran wajah “bopeng” pemkot Bogor yang saat ini sedang tertutupi kasus GKI Yasmin.Maka sudah seharusnya pemkot Bogor melaukan evaluasi sesegera mungkin. Jangan hanya menerka-nerka mengapa hal ini terjadi seperti yang dilakukan anggota Dewan Kota Bogor, atau berpura-pura tidak tahu menahu seperti salah seorang Birokrat di jajaran Pemkot dalam menanggapi hasil survei ini. 

Kota Halal yang tak halal
            Pemerintah seharusnya cekatan dalam menanggapi hasil survei ini, bukan hanya untuk mngevaluasi berbagai praktik korupsi di sektor layanan publik, tetapi juga mengevaluasi realisasi program Kota Halal yang digadang-gadangkan akan terealisasi pada tahun 2012 mendatang. Mengapa? Sudah beberapa permasalahan menghambat visi Bogor Kota Halal ini, pertama dimulai dari kasus Tempat Hiburan Malam yang terendus bahwa selama ini terdapat indikasi “main mata” pengusaha dan pemerintah sampai THM liar bisa berpenghasilan di kota Bogor, padahal selama ini masyarakat hanya tahu bahwa tak ada THM liar (diskotik) di kota Bogor. Kedua, kasus pembukaan Wahana Air The Junggle menampilkan tarian Hawai yang memamerkan tarian perut dan terbuka untuk umum, terlebih Walikota pun hadir dalam opening seremoni tersebut. Ketiga, pernikahan keempat yang diakukan Diani sebagai Walikota pun menjadi sorotan publik. Karena ditanggapi sinis oleh  masyarakat kota Bogor yang menganggap hal itu pun tidak halal. Tak pelak sebelum bulan Ramdhan Pemkot di bombardir oleh Ormas Islam dan Organisasi Mahasiswa. Tuntutan Keluarga Muslim Bogor salah satunya, mereka meminta Pemkot mengkaji ulang predikat Bogor sebagai Kota Halal dikarenakan hal-hal yang telah dipaparkan di atas. Bahkan salah seorang anggota ormas Islam mengatakan Bogor Kota Halal berarti semua tindakan pejabatnya pun halal. Dan hasil integritas KPK ini rasanya akan menjadi yang keempat, sungguh peringatan Hari Anti Korupsi Se-Dunia yang “tak istimewa”.
            Maka pantaskah saat ini Pemkot Bogor menutup mata dengan tak menanggapi baik lisan maupun tindakan hasil survei integritas KPK, serta tuntutan-tuntutan masyarakat Kota Bogor lainnya. Atau berdalih sedang mengurusi persoaan prioritas yang ada (GKI Yasmin). Adanya aspirasi msyarakat adalah bentuk kontrol masyarakat demi kemajuan kota Bogor dan tercapainya Bogor Kota Halal, siapa yang tidak mau Bogor menjadi Kota Halal, halal dari kemaksiatan, halal dari praktik korupsi, dan lain-lain? Kita masih menantikan gerak pemkot  mewujudkan utopia menjadi realita. Dan kami (masyarakat) siap bergerak bersama, tentu dengan fungsi yang ada sebagai sosial kontrol.

Bogor, 8 Desember 2011


Eko Wardaya
Pengurus Daerah KAMMI Bogor

Pimpinan KPK baru “Wajib” Merangkul Semua Elemen


Kasus korupsi seakan menjadi santapan wajib masyarakat Indonesia ketika sarapan pagi, makan  siang, dan makan malam. Berbagai media cetak, media online, radio, serta televisi beramai-ramai memberitakan perihal kasus korupsi, setidaknya beberapa tahun kebelakang. Namun apakah setiap hari pemberitaan tersebut merujuk pada berbagai kasus korupsi yang tertuntaskan? Ternyata tidak, hampir setiap hari kasus yang diberitakan media adalah kasus itu-itu saja dalam satu kurun waktu, setelah itu muncul kasus yang lain dalam kurun waktu berikutnya padahal kasus sebelumnya belum “close case”. Hal ini seakan-akan memperlihatkan ketidakbecusan pemerintah dan lembaga-lembaga yang bertanggung jawab untuk menuntaskan korupsi di Indonesia. Memang penuntasan korupsi sampai ke akar-akarnya tidak semudah membalikkan telapak tangan, diperlukan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja sama antar elemen bangsa. Karena ini merupakan tanggung jawab kita semua. Namun tak ada yang akan bergerak tanpa leader yang akan menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi di tanah air, apalagi kini perilaku koruptif sudah mendarah daging di masyarakat kita.

KPK, “Leader” yang dinanti
            Terpilihnya empat pimpinan KPK termasuk Abraham Samad (di posisi Ketua) sebagai wajah baru dan “fresh” menghembuskan angin segar di seantero masyarakat Indonesia. Apalagi sebelumnya publik sudah merasa acuh untuk sedikit saja melihat pemilihan pimpinan KPK, dikarenakan transaksi politik yang sering terjadi dalam kisah-kisah pemilihan pejabat negara. Namun kalahnya jagoan pemerintah dalam proses pemilihan membuat telinga masyarakat ingin mendengarkan janji-janji Pimpinan KPK baru. Sejenak bila kita melihat profil pimpinan KPK terpilih, kita akan melihat materi komplit dari berbagai unsur mulai dari Bambang Widjoyanto (LBH), Adnan Pandupraja (Kompolnas), Zulkarnaen  (Kejaksaan), dan Abraham Samad sendiri (Aktivis LSM anti korupsi, Anti Corruption Comitte). Di tambah Busyro Muqodas yang terlebih dahulu mengisi pos lowong di kursi pimpinan KPK dan sebelumnya menjabat sebagai Ketua Komisi Yudisial. Salah satu perwakilan Komisi III DPR RI menyampaikan alasan mengapa Abraham Samad bisa terpilih sebagai Ketua KPK padahal sebelumnya nama Abraham Samad tidak pernah muncul di media. Dan jawabnya adalah semangat kaum muda yang fresh, karena belum ada campur tangan politik Jakarta.
            Bagaimana publik tak berharap banyak pada pimpinan KPK baru, apalagi Abraham Samad dengan garangnya berjanji menuntaskan kasus-kasus kakap dan bersedia mundur dari posisisnya apabila dalam jangka waktu satu tahun tak berhasil menuntaskan kasus korupsi kakap. Tentu semua mata menunggu untuk melihat kinerja Abrahan Samad cs. terlebih setelah goncangan keras menghantam tubuh KPK beberapa waktu lalu seakan KPK sudah sepi dari prestasi-prestasi menuntaskan korupsi. Walaupun institusi antikorupsi di Indonesia tidak hanya KPK, tidak bisa dipungkiri bahwa KPK adalah ujung tombak yang diinginkan publik, Leader antikorupsi yang dinantikan publik tanpa menafikkan peran SBY sebagai Leader Republik ini tentunya.

KPK Tak Bisa Sendiri
Satu lidi akan mudah di patahkan dibanding sepuluh lidi atau bahkan seratus lidi. KPK sebagai Lembaga Antikorupsi terdepan dimana kewenangannya lebih luas dan independen dibanding lembaga penegak hukum lainnya (seperti Kejaksaan, Kepolisisan, serta Badan-badan lain yang didalamnya ada campur tangan komponen Trias Politica) tentu tidak juga dengan mudahnya bergerak bebas di area Republik Hukum ini. Seringkali terjadi conflic of interest antar lembaga maupun di dalam tubuh KPK sendiri, seperti yang kita lihat satu tahun lalu, koflik tiga lembaga penegak hukum antara KPK, Kejaksaan Agung, dan Kepolisian karena tumpang tindih penanganan kasus korupsi. Itu akan sangat menghambat kinerja KPK nantinya, maka dari itu setidaknya sebelum melangkah lebih jauh pimpian KPK baru perlu melakukan penataan gerak organisasinya. Supaya tak terjadi lagi alih-alih ingin memberantas korupsi, tapi sibuk dengan urusan sendiri. Elemen-elemen yang mesti dirangkul Pimpinan Baru KPK diantaranya :
Pertama, Internal KPK
Johan Budi selaku jubir KPK menyatakan Abraham Samad tidak bisa sembarangan mengutak-atik KPK. Hal ini seakan menjadi lampu kuning bagi perubahan-perubahan yang akan dilakoni pimpinan KPK baru, namun hal ini sebatas lampu kuning, karena memang belum ada penyamaan visi “orang baru dan orang lama” di KPK, bahkan lebih dalam lagi, di ruang lingkup pimpinan KPK itu sudah harus diperkuat sejak dini, terutama dengan Busyro Muqodas selaku pimpinan senior yang lebih dulu hinggap disana. Mau tidak mau itu harus dilakukan Abraham Samad cs kepada sesama pimpinan karena konsep kepemimpinan KPK bukan individu melainkan kepemimpinan kolektif-kolegial dimana kedudukan pimpinan sejajar dan dilanjutkan kepada internal KPK secara utuh organisasi.
Kedua, Kejaskaan Agung dan Kepolisian
Seringkali tumpang tindih pekerjaan menjadi kambing hitam atas lambatnya pergerakan aparat penegak hukum khususnya dalam menindak kasus korupsi, padahal seharusnya sudah clear dengan Tupoksi yang dimiliki lembaga-lembaga ini yang di atur dalam Undang-Undang serta aturan teknis lainnya. Sampai-sampai MoU menjadi wajah yang katanya harus dibuat untuk mempererat hubungan ketiga lembaga ini. Hal ini nampaknya naif sekali, belum tentu MoU berimplikasi pada gerak langkah kerja, karena tetap yang menjadi permaslahan pokok adalah konflik kepentingan yang ada di tubuh masing-masing lembaga, maka dari itu disinilah perlunya pimpinan KPK baru mengikat lembaga-lembaga tersebut secara emosi dengan semangat anti korupsi bukan yang lain, seperti penyelarasan langkah gerak dan memetakan tugas masing-masing lembaga.
Ketiga, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Perubahan nama sekaligus pengembalian kata kebudayaan yang tak bisa dilepaskan dari pendidikan karakter semakin menambah jalan bagi pemberangusan perilaku koruptif di Indonesia sejak dini. Jika pada tahun 2011 model pendidikan anti korupsi sudah diintegrasikan pada pendidikan kewarganegaraan tingkat sekolah dan pengembangan modul pendidikan anti korupsi pun terdapat pada mata kuliah wajib dan pilihan di perguruan tinggi, maka seharunya pada tahun 2012, KPK sebagai pengembang pendidikan antikorupsi juga turut mengawal bersama prosesi kultural ini, tidak hanya bekerja pada ranah struktural saja.
Keempat, LSM, Ormas, Organisasi Mahasiswa dan Masyarakat
Partisipasi publik jelas akan mendukung keberlangsungan Republik ini dalam memberangus korupsi hingga ke akar. Fungsi sosial control yang menjadi basis gerakan publik perlu diketahui apa maunya dan kemana maunya. Kesimpulannya Pimpinan KPK harus menjalankan prinsip aspiratif dan terbuka atas kritik. Hal ini tampaknya akan menjadi mudah mengingat Abraham Samad sendiri sering terjun ke jalan beraktivitas berasama publik untuk menyuarakan Indonesia Bebas Korupsi. Jangan sampai kacang lupa kulitnya, setelah duduk menjadi pejabat negara, lupa akan asalnya.
Inilah sekiranya hal-hal yang terlihat ringan tapi sukar untuk dilakukan Pimpinan KPK baru sebelum melangkah lebih jauh lagi, sehingga tema Hari Anti Korupsi Se-Dunia yang diadakan Kemenkumham pada tanggal 9 Desember 2011 “Terus Berjuang Berantas Korupsi” dapat dihayati sebagai semangat kebersamaan dalam memerangi korupsi. Bukan hanya sebagai tema seremonial belaka. Kami tunggu kalian “Bergerak Bersama” wahai aparat penegak hukum, karena Pahlawan tidak sendiri. Selamat Hari Anti Korupsi Se-Dunia, Merdeka dari Korupsi!
Bogor, 8 Desember 2011

Eko Wardaya
Pengurus Daerah KAMMI Bogor

Kapan Bogor Kota Halal yang "sesungguhnya"?


Setelah berbagai kasus mencoreng predikat Bogor Kota Halal sebelum bulan Ramadhan lalu, mulai dari terciumnya tempat-tempat kemaksiatan bertopeng THM , tarian perut ala Hawai di wahana The Junggel yang disaksikan langsung oleh Walikota dan terbuka untuk umum, dan kelakuan Diani untuk menikah keempat kali (sebagian kalangan sinis terhadap perilaku ini), maka kali ini ditambah lagi hasil survei integritas KPK yang menempatkan Bogor dalam 10 besar Kota Terkorup di Indonesia. Semakin utopis realisasi Bogor Kota Halal, bak tak ada petir menyambar,  Pemkot masih tenang-tenang saja tak menanggapi serius hamabatan baru yang muncul. Malahan hanya sibuk menanggapinya dengan pertanyaan kapan surveinya, indikatornya apa? Kapan Bogor menjadi Kota Halal yang "sesungguhnya"  baik orang maupun kotanya? lebih baik bertindak daripada sibuk tak produktif , tidak hanya menjadi tanggung jawab pemkot tapi semua elemen di Kota ini dengan masing-masing fungsinya, DPRD, dan tentu Kejari juga. Selamat Hari Anti Korupsi Se-Dunia, Bogor Kota Halal adalah Bogor yang bebas Korupsi.

9 November 2011
Eko Wardaya

Pengurus Daerah KAMMI Bogor

Selasa, 06 Desember 2011

Bangsa Kita (Muslim) Lebih Unggul


Apa yang ada di benak anda ketika pertama kali mendengar kata “Jepang”? Beragam jawaban dilontarkan masing-masing orang, seperti dalam buku Ganbatte, banyak anak-anak yang menjawab shinchan, doraemon, satria baja hitam, tsubasa, lain lagi para pencinta otomotif mereka menjawab honda, yamaha, dan banyak lagi jawaban yang dilontarkan, seperti sony, panasonic, samurai, bom nagasaki, universitas tokyo sampai maria ozawa. Berbeda usia beda pula jawaban, berbeda latar belakang kehidupan akan beda pula. Hampir seluruh lapisan sosial mayarakat Indonesia mempunyai jawaban atas pertanyaan di atas.
Kegandrungan terhadap bangsa Jepang
Bila kita melihat data statisik pada tahun 2010 jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang adalah dua kali lipat jumlah pada tahun 1997, yaitu 2.190 sebelumnya 1.070. Hal itu yang disampaikan Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yoshinori Katori. Data statistik lain mengungkap ada 720 ribu orang yang belajar bahasa Jepang di Indonesia. Luar biasa, kertertarikan orang Indonesia terhadap Jepang  tidak sebatas dalam sifat konsumtifnya, namun juga untuk mempelajari segala aspek kehidupan di Jepang, mulai dari seni, bahasa, sejarah, budaya, dan teknologi. Tak jarang pola hidup ala Jepang pun ditiru oleh orang-orang Indonesia. Tak mengherankan bila kita melihat fenomenologi yang ada di masyarakat Indonesia, yang saat ini menurut saya sudah kehilangan identitas dan karakter bangsa. Apa yang terjadi di atas juga menjadi fenomenologi pada aktivis Islam. Namun apakah bisa di generalisir bahwa aktivis Islam juga sudah kehilangan identitas sebagai Muslim? Saya rasa tidak semua, apalagi ketika saya mengajukan pertanyaan kepada beberapa rekan aktivis Islam perihal alasan mereka menyukai Jepang dan mempelajarinya. Mulai dari impian pribadi (kuliah, berkunjung, dsb) sampai impian dakwah (berdakwah di jepang atau menjadikan referensi untuk kebangkitan Islam) menjadi jawaban. Semoga kita selalu diteguhkan oleh Allah atas tujuan awal kita (karena saya pun mempelajari tentang Bangsa Jepang). Hilangnya kebanggaan kita sebagai Muslim dan orang Indonesia dapat terkikis apabila orientasi kita telah terlupakan.
Karakter unggul bangsa Jepang
Tulisan ini mencoba mengungkap bahwa umat Muslim lebih unggul dari bangsa Jepang. Berawal dari sebuah kiriman di facebook mengenai 12 hal yang membedakan antara watak orang Jepang dan Indonesia. Akan saya uaraikan terlebih dahulu, diantaranya,
1. Ketika di kendaraan umum:
Jepang: Orang2 pada baca buku atau tidur.
Indonesia: Orang2 pada ngobrol, ngegosip, ketawa-ketiwi cekikikan, ngelamun, dan tidur.

2. Ketika makan dikendaraan umum:
Jepang: Sampah sisa makanan disimpan ke dalam saku celana atau dimasukkan ke dalam tas, kemudian baru dibuang setelah nemu tong sampah.
Indonesia: Dengan wajah tanpa dosa, sampah sisa makanan dibuang gitu aja di kolong bangku/dilempar ke luar jendela.

3. Ketika dikelas:
Jepang: Yang kosong adalah bangku kuliah paling belakang.
Indonesia: Yang kosong adalah bangku kuliah paling depan.

4. Ketika dosen memberikan kuliah:
Jepang: Semua mahasiswa sunyi senyap mendengarkan dengan serius.
Indonesia: Tengok ke kiri, ada yg ngobrol. Tengok ke kanan, ada yg baca komik. Tengok ke belakang, pada tidur. Cuman barisan depan aja yg anteng dengerin, itu pun karena duduk pas di depan hidung dosen!

5. Ketika diberi tugas oleh dosen:
Jepang: Hari itu juga, siang/malemnya langsung nyerbu perpustakaan atau browsing internet buat cari data.
Indonesia: Kalau masih ada hari esok, ngapain dikerjain hari ini!

6. Ketika terlambat masuk kelas:
Jepang: Memohon maaf sambil membungkukkan badan 90 derajat, dan menunjukkan ekspresi malu + menyesal gak akan mengulangi lagi.
Indonesia: Slonong boy & slonong girl masuk gitu aja tanpa bilang permisi ke dosen sama sekali.

7. Ketika dijalan raya:
Jepang: Mobil sangat jarang (kecuali di kota besar). Padahal jepang kan negara produsen mobil terbesar di dunia, mobilnya pada ke mana ya?
Indonesia: Jalanan macet, sampe2 saya susah nyebrang & sering keserempet motor yg jalannya ugal-ugalan.

8. Ketika jam kantor:
Jepang: Jalanan sepiiiii banget, kayak kota mati.
Indonesia: Ada Oknum pake seragam coklat2 pada keluyuran di mall-mall.

9. Ketika buang sampah:
Jepang: Sampah dibuang sesuai jenisnya. Sampah organik dibuang di tempat sampah khusus organik, sampah anorganik dibuang di tempat sampah anorganik.
Indonesia: Mau organik kek, anorganik kek, bangke binatang kek, semuanya tumplek jadi 1 dalam kantong kresek.

10. Ketika berangkat kantor:
Jepang: Berangkat naik kereta/bus kota. Mobil cuma dipake saat acara keluarga atau yg bersifat mendesak aja.
Indonesia: Gengsi dooonk... Masa' naik angkot?!

11. Ketika janjian ketemu:
Jepang: Ting...tong...semuanya datang tepat pada jam yg disepakati.
Indonesia: Salah 1 pihak pasti ada dibiarkan sampai berjamur & berkerak gara2 kelamaan nunggu!

12. Ketika berjalan dipagi hari:
Jepang: Orang2 pada jalan super cepat kayak dikejar doggy, karena khawatir telat ke kantor/sekolah.
Indonesia: Nyantai aja cing...! Si boss juga paling datengnya telat!
Dapat disimpulkan dari uraian di atas bahwa bangsa Jepang mempunyai karakter disiplin, haus ilmu, menghormati guru, pekerja keras, dan semangat kebersihan. Semua nilai moral positif yang melekat itulah yang membuat mereka bangkit dari keterpurukan menjadi bangsa yang kuat dan besar walaupun tidak memiliki kekayaan alam yang banyak.
Bagaimana dengan umat Muslim?
Islam yang kita pahami bukan hanya ritual keagamaan saja, namun Islam yang syaamil, kaamil, mutakaamil, mencakup seluruh aspek kehidupan, bersumber pada Al Qur’an dan Sunnah yang langsung diberikan-Nya melalui perantara Rasulullah saw sebagai pedoman untuk mengarungi kehidupan dunia yang terbatas. Apabila Restorasi Meiji smenjadi tonggak perubahan bangsa Jepang menuju era keterbukaan terhadap dunia dan pembentukan moral yang bersumber dari ajaran leluhur, Shinto dan Budha, maka umat Muslim melalui momentum Hijrah dimulailah kehidupan baru masyarakat beradab sera pembuatan piagam Madinah sebagai penegasan berdirinya negara dan pembangunan kehidupan sosial yang berbasis syariat Islam. Sudah barang tentu karakter bangsa Jepang di atas  juga dimiliki oleh umat Muslim bahkan lebih dari itu.
            Berikut saya uraikan, Ilmu dan Islam adalah dua hal yang tidak dipisahkan, dalam Al Qur’an Allah swt mengatakan akan mengangkat derajat orang-orang yang menuntut ilmu.
 "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu" maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Q.S. Al-Mujadilah: 11)
Selain Al Qur’an banyak juga hadist yang memotivasi untuk mencari ilmu, karena dengan ilmu barulah kita bisa beramal, membangun negeri dan mencerdaskan anak bangsa, dengan ilmu mendekatkan diri kita kepada Allah dan membuat perasaan takut kepada Allah bersemayam di dalam diri kita.
“Barang siapa keluar mencari Ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia kembali” (Riwayat At-Thirmidzi)
Peradaban Islam pada masa Dinasti Abbasiyah menjadi bukti empirik kemajuan ilmu pengetahuan yang dilakukan umat Muslim. Sesuai statistik dari Buku Tarikh’Ashr Al-Khilafah Al-Abbassiyyah, umat muslim pada masa itu menulis lebih dari seribu lima ratus buku setiap tahun. Pada masa itu juga dibangun madrasah-madrasah ilmu dan dicetuskan gerakan penerjemahan serta didirikan sarana observasi dan ilmu perbintangan. Tampaklah bagaimana umat Muslim berkarakter haus ilmu, produktif, juga pekerja keras. Mereka melakukan penelitian berbagai karya peniggalan peradaban sebelumnya, seperti Yunani, Persia, India, Yahudi, dan Nasrani sehingga mampu mencapai puncak kegemilangan sebuah peradaban Islam.
            Dalam mencari ilmu pun ada tuntunan dalam berhubungan antara guru dan murid sehingga murid terbiasa disiplin dalam mencari ilmu. Sejarah telah mencotohkan, Ali ra berkata “aku ibarat budak dari orang yang mengajarkan ku walaupun hanya satu huruf” pernyataan ini adalah ungkapan penghormatan yang begitu besar terhadap guru. Ada juga kisah saat Khalifah Harun Ar Rasyid menemui anaknya ketika sedang belajar kepada Syekh Burhanuddin, khalifah melihat anaknya sedang menuangkan air wudhu untuk Syekh dan ia berkata, “wahai anakku mengapa ketika tangan kananmu menuangkan air wudhu namun tangan kirimu tak bergerak, gunakanlah kedua tanganmu untuk menuangkan air wudhu dan membasuh kaki gurumu.” Begitulah umat Musim harus menghormati orang yang mengajarkan ilmu.
            Karakter unggul yang juga dimiliki pribadi Muslim adalah disiplin, walaupun gambaran kisah diatas sangat jelas mengenai kedisiplinan umat Muslim dalam menuntut ilmu, tapi dirasa perlu untuk menambahkan hal yang langsung diberikan Allah untuk membentuk pribadi Muslim yang disiplin, yaitu Ibadah Ramadhan. Inilah pendidikan yang mengasah kedisiplinan umat Muslim karena dalam ibadah Ramadhan umat Muslim dituntut disiplin dalam menunaikan kewajiban, disiplin dalam waktu dan disiplin dalam menaati hukum Allah.
Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui (QS Al Jatsiyah [45]:18).
            Terakhir mengenai cinta kebersihan, hal ini menjadi tanggung jawab penuh manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya untuk menjadi khalifah di muka bumi yang mempunyai tanggung jawab besar atas kelangsungan alam semesta. Seringkali Allah memberikan bencana kepada manusia yang fasik karena ulah tangan-tangan mereka sendiri.
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Ar Rum : 41)
Menurut Prof.Dr.Emil Salim pelestarian lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Tidak mungkin umat Muslim dapat menunaikan amanah sebagai khalifah bila tidak melakukan upaya pelestarian lingkunagan.
Indonesia bisa lebih unggul 
Semua karakter bangsa Jepang yang membuat mereka unggul ternyata kita (Muslim) miliki bahkan lebih banyak karakter unggul lainnya, semua sudah termuat dalil Al Quran dan Sunnah serta bukti empirik pendahulu sebelumnya baik masa Rasulullah saw, sahabat, dan setelahnya. Bangsa Jepang mempunyai kebiasaan harakiri atau menyudahi hidup dengan cara menusukkan pisau ke tubuhnya, ini adalah tindakan yang dilakukan apabila mereka gagal, daripada malu mereka lebih memilih mati, tak mengaggetkan jika tingkat bunuh diri bangsa Jepang adalah tertinggi di dunia. Tetapi Umat Muslim tidak diperkenankan melawan takdir.
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An-Nisa’ : 29). Dalam ayat yang lain Allah menjelaskan bahwa  “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an)” (QS. Al-Kahfi ; 6).
Dengan tegas melalui ayat diatas tergambar bahwa Islam melarang perbuatan bunuh diri.
Semua profil karakter kita, tata cara kehidupan kita sudah ada pedomannya. Bangsa Jepang mampu bangkit dari kesempitan dengan modal karakter dan kebiasaan yang masih ada kekurangannya, namun Islam yang sudah memberi petunjuk sempurna dan umat Muslim yang pernah mengalami masa-masa kegemilangan peradaban harusnya bisa kembali gemilang untuk masa sekarang dan yang akan datang.
Indonesia mayoritas penduduknya adalah Muslim, maka sesungguhnya Indonesia bisa lebih unggul. Ambilah hikmah pelajaran dari kebangkitan mereka, tetaplah bangga menjadi Bangsa (Musim) Indonesia, tetap pada tujuan semula untuk belajar dari bangsa lain yang sudah besar, jangan begeser tujuan dan kehilangan kebanggaan apalagi identitas kita bangsa (Muslim) Indonesia.. Wallahu’alam bishawab

Bogor, 1 Desember 2011
Eko Wardaya
Pengurus Daerah KAMMI Bogor