Selasa, 22 November 2011

Bangsa Mati Hati


Mungkinkah terjadi
Mereka menjadi besar dan bermanfaat
Bila saat ini terjebak dalam penjara hati

Mereka berjalan sendiri
Berlari atas akal indrawi
Melakukan lompatan tanpa tali

Tanpa menggali isi bumi
Membaca arah matahari
Dan mencari memoar Illahi

Benar kata sahabat
Mereka pasti akan mati
Ditangan langit yang berganti hari

Bintang tak digapai
Matahari tak bersinar
Disaat dunia akan segera berhenti berputar

Tapi mereka masih terus mendekam
Dalam penjara hati
Ironi

Mereka adalah ksatria
Pengganti panglima yang jatuh
Penerus raja yang mati

Naif
Tenggelam dalam samudera
Tanpa sadar dan hanya diam

Akan selalu seperti ini sampai kapanpun
Karena mereka masih mendekam
Dalam penjara hati

Mati hati mereka
Tertutup mata mereka
Dan musnah kerajaan dunia

Bogor, 17 November 2011
Eko Wardaya
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, JAS MERAH" Soekarno

Jumat, 11 November 2011

Hamba Materi

Sungguh naif orang-orang itu
Bergaya petantang-petenteng
Seperti kompeni di zaman mak'ku dulu

Merasa besar
Merasa punya dunia ini
Taunya cuma menghina

Padahal ku tau
Mereka tak ubah seperti binatang
Menunggu makan dari majikan

Mau saja berbohong
Asal diberi uang
Sungguh jalang

Menusuk teman sendiri
Pun mereka mau
Asal ada uang

Busuk kau hamba materi
Tertawalah sekarang
Karena kau masih punya uang

Tak tau besok
Jika tak ada uang

Mungkin saja
Giliranku yang tertawa

Bogor, 11 November 2011
Eko Wardaya

Kamis, 10 November 2011

Menanti Orde Pahlawan di Indonesia

Gelombang besar tidak akan muncul sebelum muncul gelombang-gelombang kecil. Begitupun gerak langkah kepahlawanan, tidak akan begitu saja muncul tanpa ada gerakan-gerakan penyulut untuk bangkit, melawan, dan menunjukkan sosok pahlawan. Pahlawan adalah gelar yang disematkan kepada orang-orang hebat, gigih berjuang, dan rela berkorban demi kepentingan umat, bukan diri sendiri.

Sekilas Kondisi politik dan ekonomi global
Tahun 2011 menjadi tahun bersejarah bagi kawasan Timur Tengah, mengapa tidak, berbagai momen perubahan hadir menyeruak ditengah kesengsaraan rakyat khususnya di Negara yang mempunyai mayoritas rakyat beragama Islam. Berawal dari Tanggal 17 Desember 2010, di depan kantor Gubernur Sidi Bouzidm Tunisia, Muhamed Bouazizi melakukan aksi mengejutkan yaitu membakar dirinya. Tindakan ini dipicu oleh kekesalan Bouazizi atas pengaduan yang tidak direspons. Pagi harinya, barang dagangannya disita aparat kepolisian setempat, bahkan sampai dihina. Efek pembakaran dirinya berujung maut.  Kejadian ini menyebabkan kemarahan warga Tunisia yang diekspresikan melalui tindak kekerasan. Bahkan kemudian menambah tuntutan pendemo agar Presiden Zine El Abidine Ben Ali turun dari kursi kepresidenan. Revolusi Tunisia memiliki efek berantai menjalar ke beberapa negara di Timur Tengah. Revolusi di Mesir, Aljazair, Bahrain, Yaman, dan Libya. Semua perjuangan revolusi tersebut menuntut hal yang sama, turunnya rezim yang telah lama berkuasa. Serta memiliki latar belakang yang sama, Demokrasi, HAM, kebebasan berpolitik dan bernegara terasa nihil di Negara mereka dengan adanya para pemimpin rezim yang telah uzur. Mereka menuntut adanya perbaikan, kemiskinan, masalah ekonomi, rendahnya upah juga korupsi menjadi api penyulut sehingga rakyat tak perlu berpikir lagi untuk melancarkan aksi revolusi penggulingan pemerintahan.
Di lain belahan dunia sedang terjadi krisis ekonomi global yang menghantam Eropa dan Amerika. Penurunan peringkat kredit Amerika yang dilansir Standard & Poor’s membuktikan ketidakstabilan fiskal di Amerika. Eropa tak kalah hebohnya, Yunani adalah Negara pertama yang terkena dampak krisis tersebut, aksi massa pun tak terelakkan di Yunani dan juga merambat ke Negara lainnya, sampai aksi massa terparah di Inggris berbentuk kekerasan dan penjarahan. Kondisi teranyar adalah demo anti wall street dan berefek pada ketidakpercayaan warga Amerika pada Bank Konvensional. Banyak nasabah yang memindahkan uang mereka ke koperasi-koperasi yang ada.
Jelas tersimpulkan bahwa dunia sedang mengalami goncangan dahsyat berupa krisis dalam berbagai aspek yang berimplikasi pada ketidaksejahteraan rakyat.

Munculnya Gelombang Kepahlawanan
            Seperti yang saya sebutkan dimuka bahwa pahlawan tidak akan muncul begitu saja. Dan kondisi global yang terjadi sedang dan akan memunculkan pahlawan yang dinanti. Kondisi baru-baru ini Partai Islam moderat di Tunisia, Ennahda memenangi pemilu demokratis pertama di Negara tersebut, bahkan sebelumnya Partai AKP Turki pada bulan Juni memenagi Pemilu untuk ketiga kalinya berturut-turut semenjak pemilu pada tahun 2002. Besar kemungkinan Ikhwanul Muslimin akan memenangi pemilu mendatang di Mesir.
Semakin nampak gerak kepahlawanan di masing-masing Negara, tinggal kita rinci saja siapa tokoh-tokoh tersebut.Bila pemuda dan rakyat dianggap memelopori revolusi Timue Tengah juga aksi massa Eropa serta Amerika, Turki mempunyai triumvirat yang membuat mereka bangkit, Abdullah Gun, Erdogan, dan Ali Babacan. Bagaimana Indonesia?

Krisis Multidimensi Sejak Dulu
            Jika membicarakan Indonesia, khalayak sudah sangat mengetahui bagaimana kondisi kita pasca reformasi, namun ditengah situasi global yang dijelaskan di muka, berdasarkan statistik pemerintah Indonesia berada pada titik stabil ekonomi, artinya tak terpengaruh krisis ekonomi global yang ada. Namun di tengah stabilitas ekonomi yang ada, tidak sesuai dengan kondisi realita masyarakat bawah, masih saja terpuruk. Ditambah bobroknya penegakan hukum yang terjadi, tingginya angka kriminalitas, maraknya isu SARA yang memunculkan konflik, sampai kasus PAPUA, dan masih banyak lagi. Apa negeri ini dikatakan lebih baik dari negara-negara yang sedang dilanda krisis ekonomi maupun politik. Tentu saja tidak, tetapi sampai kapan kah kondisi ini mereda. Gelombang kepahlawanan yang muncul di pentas global secara tidak langsung akan menyentuh seluruh kawasan di dunia terutama Indonesia. Paling tidak hal itu menjadi harapan akan munculnya Pahlawan Indonesia. Karena sesuatu yang semakin lama tersudut akan menimbulakan kejengahan yang akhirnya meluapkan segala yang ia miliki untuk bisa keluar dari ketersudutan yang ada, bangkit melawan. Akan seperti apa, apakah mengulang masa revousi ’66 atau reformasi ’98.

Orde Pahlawan, sebuah harapan
Merujuk pada ramalan jawa kuno, Indonesia akan segera mendapatkan pahlawan, SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU yaitu tokoh pemimpin yang amat sangat religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Yang Maha Kuasa. Dengan selalu bersandar hanya kepada Yang Maha Kuasa, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati. Tokoh ini akan muncul setelah 6 kepemimpinan yang juga digariskan dalam ramalan tersebut. Bukan berarti kita mempercayai hal ini secara mutlak, tetapi hanya sebagai angin harapan akan hadirnya Orde Pahlawan di Indonesia. Ditambah lagi kebangkitan tenyata terjadi di Negara yang mayoritas rakyatnya beragama Islam semakin menguatkan angin harapan di Negara kita. Al Qur’an berbicara mengenai manusia terbaik alias pahlawan dalam surat Ali Imran :79,
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata, “Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata), “Hendaklah kalian menjadi orang-orang Rabbanu, karena kalian selalu mengajarkan Al Kitabdan disebabkan kalian tetap mempelajarinya.”
Imam Al Qurtubi menjelaskan tentang kandungan ayat ini, “Hendaklah kalian menjadi orang-oarang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah swt.
Karena gelombang kepahlawanan di berbagai belahan dunia telah menunjukkan sosok pahlawan mereka-bagai gelombang kecil- dan tinggal menanti gelombang besar setelahnya yang menandai kelahiran Orde Pahlawan. Wallahu a’lam bishawab

Bogor, 9 November 2011
Eko Wardaya


Pahlawan Sejati

Badanmu yang ringkih
Membuatku tak percaya

Kondisi keluargamu yang sulit
Membuatku semakin tak percaya

Sunyi senyap semua bahasa kata
Tak melihat alam duniamu yang merana

Jangan beritahu siapa-siapa
Itu yang kau katakan padaku

Cahaya lentera yang ada padamu
Menyinari rimba dunia

Tak seperti lilin yang akan mati
Tapi seperti matahari

Menggapai ridho Illahi
Bukan ridho manusia atau benda mati

Aku bukan siapa-siapa
Bisiknya padaku suatu waktu

Kini kau telah pergi
Tapi jejakmu tetap disini

Terus menjadi pelangi
Sebagai jembatan langit dan bumi

Tak ada yang tau siapa dirimu
Dan seperti apa rupamu

Semoga kelak kita bertemu
Dalam satu waktu

Kembali menuai rindu
Bercengkerama dalam kasih

Untuk mengobati luka lalu
Juga janji yang belum kau dapati



Cilandak, 9 November 2011
Eko Wardaya





Memaknai Pahlawan dan Hari Pahlawan di Era Milenium

Hari Pahlawan yang diperingati setiap tanggal 10 November identik dengan acara-acara simbolik mengenang pertempuran di Surabaya yang dimotori oleh para kiayi seperti KH Hasyim Asy’ari dan tokoh muda yang bernama Bung Tomo. Kejadian tersebut menjadi bom semangat bagi rakyat Indonesia di kota lainnya untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah, pembakaran Kota Bandung adalah salah satu buah dari ledakkan bom semangat arek-arek Surabaya.
            Berdasarkan sejarah, penentuan Hari Pahlawan berasal dari usul seorang Pimpinan PRI Surabaya, ia adalah Sumarsono. Presiden Soekarno kala itu menerima usulan tersebut dengan pandangan latar belakang makna Hari Pahlawan yang dihubungkan dengan revolusi bangsa. Sampai saat ini hal itu yang tertanam di benak masyarakat Indonesia.
Sejak SD kita diceritakan mengenai sejarah Hari Pahlawan dikemas dalam kisah perlawanan, tak lupa foto bung Tomo yang sampai saat ini terpajang dalam buku-buku IPS atau sejarah. Alhasil dalam benak masyarakat kebanyakan yang dinamakan Pahlawan adalah mereka yang berjuang di medan pertempuran melawan penjajah baik gugur maupun tidak. Padahal gelar pahlawan nasional tidak hanya disematkan pada mereka yang saya sebutkan diatas saja, ada Ismail Marzuki dalm bidang Sastra, juga Tirto Adhi Soerjo dalam bidang pers. Toh masyarakat sudah terlanjur mendefinisikan pahlawan sesuai cerita yang mereka tangkap di sekolah.
Pahlawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya. Zaman millennium dimana sudah berakhir yang dinamakan penjajahan fisik membuka peluang anak-anak bangsa untuk terjun di pentas global di berbagai bidang; olahraga, seni, sains, dan lainnya. Tentu untuk berprestasi dan mengharumkan nama bangsa. Dan terbukti sudah banyak prestasi Indonesia yang ditorehkan di bidang Sains, beberapa tahun kebelakang siswa-siswi Indonesia memenangkan olimpiade Fisika di tingkat Asia dan Internasional. Itu salah satunya, belum lagi ada seorang anak SMP-Arrival Dwi Sentosa yang bisa membuat antivirus yang dinamakan ARTAV pada tahun 2011, dan banyak lagi presatasi di berbagai bidang lain.
Apakah mereka bukan pahlawan? padahal mereka mengharumkan nama bangsa di mata dunia, membuat produk orisinil Indonesia dan bermanfaat bagi khalayak serta sesuai dengan definisi yang ada mengenai pahlawan. Walaupun belum mendapat gelar simbolik sebagai Pahlawan Nasional.
Hal ini perlu mendapat perhatian besar bagi pemerintah dan kita semua, dimana era millennium pemaknaan Pahlawan dan Hari Pahlawan harus sudah digeser tanpa menafikkan sejarah 10 November, untuk memperkenalkan pahlawan-pahlawan baru Indonesia,  untuk tak terjebak dalam masa lalu saja. Bung Karno pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”
Karena setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda, maka di setiap zaman pasti mempunyai pahlawan tersendiri.

Bogor, 8 November 2011
Eko Wardaya