Kamis, 22 Desember 2011

Kowad dan Semangat Hari Ibu

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa tanggal 22 Desember bertepatan dengan dua  momentum sejarah nasional, yaitu Hari Ibu dan Hari jadi Korps Wanita Angkatan Darat, biasa disingkat Kowad. Dua momen yang berkaitkelindan, bukan karena latar sejarahnya melainkan dari kesamaan objek. Sama-sama wanita, sama-sama pejuang, dan sama-sama pahlawan.

Kowad berisikan wanita-wanita terpilih yang siap membela tanah air, mereka adalah pejuang yang selalu siaga bagaimanapun kondisi negara, dan mereka memiliki nilai-nilai kepahlawanan apabila kita tengok beberapa epik sejarah bangsa.

Bagaimana dengan seorang Ibu? ia adalah manusia istimewa yang berjuang selama sembilan bulan demi melahirkan calon generasi-generasi terbaik bangsa. Jasa seoarang ibu saat mengandung dan membesarkan anaknya tidak akan pernah terbayar oleh apapun.

Semua harapan seorang Ibu terbayar ketika melihat anaknya mampu menjadi manusia yang bermanfaat dan membanggakan orang tuanya.

Maka sudah sepantasnya wanita-wanita angkatan darat menjiwai nilai-nilai semangat juang seorang ibu. Belajarlah dari perjuangan mereka ketika sembilan bulan mengandung karena sesungguhnya banyak hikmah yang dapat dipetik dari semua kejadian yang ada.

Semoga wanita-wanita angkatan dapat terus memegang amanah tanpa mengharapkan pamrih layaknya seorang ibu,  Hanya melakukan yang terbaik, terbaik, dan terbaik. Selamat Hari Kowad, semangat hari Ibu.

Unutkmu para ibunda tercinta, Selamat Hari Ibu, doakan terus anak-anakmu agar dapat mewujudkan cita bangsa.

Eko Wardaya

Pengurus Daerah KAMMI Bogor

Cerewet adalah Kasih Ibu

“Begini salah, begitu salah, maunya bagaimana?” Ini adalah salah satu ungkapan rasa kesal kebanyakan seorang anak terhadap ibunya. Ada yang dengan langsung mengucapkan di depan ibunya, ada juga yang mengumpat dibelakang.

Saya rasa semua anak pernah mengalami rasa seperti diatas, dengan berbagai ungkapan ia mengumpat ibu yang telah membesarkannya.

Sembilan bulan adalah waktu yang dibutuhkan seorang ibu mengandung sebelum melahirkan anaknya ke dunia ini. Sembilan bulan pula waktu yang memberatkan bagi seorang ibu, karena ia harus merelakan berbagai hal untuk tidak dilakukan atau dilakukan dengan tidak mengenakkan.

Tidak boleh makan sembarangan, tidur harus hati-hati, kerja tidak boleh terlalu lelah, dan banyak hal lain lagi yang membatasi sang calon ibu apalagi jika kandungannya sudah memasuki umur tua. Namun ketika kita bertanya apakah ia merasa kesal kepada anak yang dikandungnya? Apakah ia sering mengumpat dan mengekspresikan kekesalannya karena banyak aktivitasnya yang terbatasi?

Jawabannya tidak, tidak ada seorang ibupun yang akan menjawab demikian, sekalipun anak yang dikandung adalah hasil “kecelakaan”

Coba kita lihat calon ibu yang sedang mengandung, apa yang mereka lakukan. Tak lain dan tak bukan adalah berusaha menjaga kandungannya agar lahir sehat. Mengkonsumsi vitamin dan makanan bergizi, berolahraga, sampai memperdengarkan alunan lagu kepada sang calon bayi. Ia tidak mengumpat sang bayi malahan memberi kata-kata positif.

Setiap wanita yang sedang mengandung akan berbuat yang terbaik demi kelahiran sang buah hati yang diharapkan kelak menjadi “seseorang”. Pun begitu ketika telah lahir, sang ibu tetap komitmen dengan cita-citanya. Ia akan terus memberikan yang terbaik sesuai kemampuan yang ia miliki.

Maka dalam setiap langkah hidup sang anak doa ibu akan selalu mneyertai, sehingga ia akan memperhatikan anaknya. Namun perhatiannya kadang disalahartikan kebanyakan anak. Mereka merasa risih apabila sang ibu banyak nasihat dan banyak komentar akan kehidupan dunia mereka. Mereka merasa tak bebas, merasa dikekang, yang kemudian pada akhirnya sang anak mengeluarkan ungkapan-ungkapan tak sedap seperti diatas.

Banyak anak yang menilai ibunya cerewet, sampai-sampai tak jarang perdebatan berujung hubungan tak harmonis ibu dan anak terjadi. Sampai sang ibu tak bisa menahan luka dalam hatin dan menangis di saat sang anak tak melihat.

Apakah tak kita sadari bahwa cerewet adalah fitrah seorang wanita, bahwa cerewet menandakan rasa peduli san perhatian yang sangat besar, bahwa cerewet adalah ungkapan kekhawatiran pada kita sebagai anaknya.

Maka bagi semua anak yang masih memiliki Ibu sampai hari ini, cobalah sesekali kita menyelami romantika perjalanan ibu kita saat mengandung sehingga dapat kita tahu bagaimana perjuangan dan harapannya akan kehadiran kita, cobalah sesekali kita menikmati cerewetnya ibu kita agar kita dapat mengetahui apa yang menurut ia terbaik untuk kita.

Karena sesungguhnya sampai kapanpun kita tidak akan dapat membalas jasanya yang telah mengantarkan kita dengan selamat berdiri di bumi ini sampai bisa berjalan dan berlari.

Sebelum terjadi penyesalan di hari kelak ketika akan datang ajal menjemputnya, mulailah dari sekarang. Karena suatu saat kita akan merindukan cerewetnya menghiasi kehidupan kita. Dan saya yakin tangis akan menyertai rasa kehilangna kita kelak.

Tanyakan saja kepada mereka yang sudah kehilangan ibunda tersayang, apa gerangan yang ia rasakan. Kini dengan membayangkannya saja kita dapat menangis, apalagi bila hari itu tiba.

“Ibu mafkan aku yang tak bisa memahami arti bibirmu, maafkan aku yang selalu mengumpatmu, maafkan aku yang membuatkan luka di hatimu. Ibu, aku tak bisa banyak berkata, mungkin karena keangkuhanku. Semoga pelukan kasih sayang ini dapat menjadi pesan terindah untukmu.”

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi Tak harap kembali
Bagai sang Surya menemani dunia


Eko Wardaya

Selasa, 20 Desember 2011

Mahasiswa dan Kemajuan Teknologi Informasi


Kata maha seringkali dijumpai dalam frasa yang menyatakan amat, sangat, atau teramat, biasanya dipakai dalam frasa milik Tuhan atau Raja, seperti maharaja, mahaagung, dan lain-lain. Namun ternyata kata maha digunakan juga untuk membentuk sebuah frasa mahasiswa. Tentu hal ini mengartikan bahwa mahasiswa adalah makhluk istimewa dikarenakan menyandang sebuah kata yang hanya digunakan untuk membentuk frasa milik Tuhan dan Raja.
Mahasiswa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, dimana perguruan tinggi adalah tempat menempuh pendidikan terakhir setelah lulus sekolah menengah atas. Metamorfosis seorang siswa menjadi mahasiswa memiliki konsekuensi logis atas besaran tanggung jawab pribadinya, tidak hanya atas dirinya sendiri namun sebuah peran yang harus dijalankan seseorang yang berada pada strata intelektual masyarakat negara, yaitu tanggung jawab untuk memajukan bangsa. Atau seringkali kita mendengar istilah agent of change. Sekiranya itulah harapan yang selalu hadir dan disematkan rakyat kepada mahasiswa.
Potret kebanyakan mahasiswa kini mempertontonkan sebuah generasi mahasiswa yang terbuai oleh masa muda dan jauh dari value seorang mahasiswa. Hal ini dipengaruhi berbagai kemudahan yang ada saat ini, salah satunya kemajuan teknologi informasi. Sehingga mendukung terbentuknya karakter mahasiswa yang individualis+pendek pikiran= manja.
Maraknya jejaring sosial membuat mahasiswa lebih memilih nongkrong di dunia maya dibanding mengikuti acara kemahasiswaan dan sosial kemasyarakatan. Kongko-kongko di grup Facebook lebih riuh dan nonstop setiap waktu. Padahal sejatinya kepekaan sosial akan terbentuk ketika kita berbaur dengan realitas sosial yang ada. Proses yang tidak akan didapatkan ketika hanya bergaul di dunia maya yang hanya bersilat lidah dengan bahasa kata tanpa rasa. Jangan aneh bila kita melihat mahasiswa yang pura-pura tidur di saat ada ibu sedang berdiri dalam Bus kota.
Selain itu buaian dunia maya sungguh erat lekat di hati mahasiswa kini, perpustakaan menjadi sepi karena Google search engine lebih laris manis, alhasil tereliminasilah keinginan untuk mencari buku. Bagaimana mau mencintai buku dan gemar membaca, mencarinya pun enggan. Sehingga manfaat yang didapat dari kebiasaan membaca buku pun raib. Tentu saja hal ini yang menyebabkan mahasiswa kini pendek pikirannya. Menginginkan hal instan tanpa mau berusaha lebih keras, prinsip yang penting selesai saat ini sudah melegakan bagi mereka.
Perilaku ini menumbuhkan kultur akut dalam lingkup pribadi yang disebut manja. Sifat manja yang terbentuk ini adalah hegemoni non fisik penjajahan intelektual, warisan kolonial yang akan terus menjalar dan menginjeksi moral mahasiswa. Alih-alih ingin melakukan pemanfaatan inovasi zaman malah terhanyut dalam kungkungannya. Bagaimana nasib negara yang sedang karut marut ini tanpa kontrol sosial mahasiswa? Apa mereka akan berdalih telah sedang melakukan kontrol sosial lewat dunia maya?
Pantas kiranya bila kini akronim mahasiswa adalah masih harus jadi siswa karena mereka belum siap memikul tanggung jawab diatas tantangan modernitas. Era modernitas dalam hal ini kemajuan teknologi informasi membuka peluang model perjuangan mahasiswa yang baru, mengamininya bukan berarti menggunakan tanpa pengelolaan tepat guna.
                                   

Eko Wardaya
Pengurus Daerah KAMMI Bogor
  

Dunia Kampus Mencetak Generasi Tak Unggul


Dunia kampus memiliki kultur yang berbeda dengan sekolah, orang-orang yang ada disana pun memiliki label yang garang karena berembel-embel maha, label yang hanya dimiliki Tuhan atau raja. Kita masih bisa melihat kultur unggul yang dimiliki mahasiswa angkatan ’65 dalam film GIE. Menulis, diskusi, kritisisime, dan kepekaan sosial tertanam kuat pada orang-orang yang bergelar mahasiswa.
            Kini di tengah era serba modernitas, ternyata kultur unggul itu terkikis karena telatnya dunia kampus membuat imunitas dalam diri generasi mahasiswa era teknologi informasi. Hal ini bisa kita lihat dalam laku sunyi kehidupan kampus.
Proses penanaman nilai-nilai mahasiswa sejati yang biasa dilakukan ketika masa orientasi kemahasiswaan seperti perpeloncoan tak berefek disebabkan pola yang digunakan sudah usang dimakan zaman. Alhasil perilaku semasa sekolah yang dibawa mahasiswa terus bergelayut dalam diri mereka. Tak jarang kita melihat mahasiswa yang masih diantar orang tua ke kampus. Kurun waktu lima tahun saja, perilaku ini menjadi fenomena umum yang lumrah dan tidak aneh.
 Telah terjadi distorsi makna mahasiswa dan yang pasti kebangkrutan bangsa dalam mencetak generasi unggul. Mahasiswa yang ketika lulus diharapkan langsung menjadi pionir perubahan bangsa, malahan harus berjibaku terlebih dahulu mengurusi kehidupan pribadinya.

Eko Wardaya

Malu Aku Jadi Mahasiswa


Dulu
Di kampungku orang-orang selalu tumpah ruah
Manakala ada Sarjana baru lulus dan pulang dari tanah rantau

Diberikannya pisang sesisir
Ayam kampung montok yang bisa langsung disantap
Tak lupa disiapkan juga calon istri anak pak kades

Dulu
Di kampungku orang-orang pada senang
Kedatangan mahasiswa dari kota
Dengan lagak berjas kampusnya
Tas digendong dan buku diketiak
KKN katanya pak RT

Ingin rasa aku menjadi mahasiswa dan lulus jadi tukang sarjana
Gagah sekali kelihatannya, menjadi kebanggaan banyak manusia

Walau bapak ibuku miskin aku tetap tak lupa cita hatiku
Ku kira itu tahun 90an saat Pak Harto masih suka berceramah di TV buram

Kini
Aku pulang memakai jas kampusku menuju kampung bapak ibuku
Hatiku dag dig dug berulang kali tak pernah berhenti
Tak sabar menanti calon istri anak pak kades
Lapar membayangkan ayam kampung montok
Juga cuci mulut buah pisang

Tapi ku dengar kini
Orang-orang dikampungku memaki bertubi-tubi
Melihat anak rantau pulang jadi sarjana
Tak punya apa-apa, menjadi beban warga desa
Kerjanya tak ada, menambah pusing kepala ibunya

Ku dengar kini
Orang-orang dikampungku benci mahasiswa
Yang ke desa cuma main mata, tak membangun desa apalagi Indonesia
Cari nilai semata, tak hiraukan kelayakan hidup si tua renta yang banyak tinggal di desa

Ku dengar kini
Orang-orang dikampungku melempari orang kota berjas kampus
Yang tak pernah menyapa, hobinya memegang harta dan memelototinya

Kudengar kini
Anak-anak di kampungku tak berani pergi ke kota
Karena takut menjadi orang bejat bertopeng mahasiswa

Rasa-rasanya baru 20 tahun lalu aku melihat, kini yang ku dengar lebih banyak dan bertolak pinggang dengan yang aku lihat

Kini
Aku lipat jas kampusku dalam ransel besar
Tak ada rasa selain menundukkan kepalaku
Rontok imajiku beserta khayalku
Melangkah tanpa ragu meninggalkan bapak ibu sekali waktu lagi
Untuk kembalikan masa itu dulu
Malu aku jadi mahasiswa

Eko Wardaya

Senin, 19 Desember 2011

Kebutuhan Motivasi dan Perilaku Pelajar


“Darah muda darahnya para remaja”, begitu petikan lagu Bang Rhoma yang menggambarkan semangat berkobar seorang anak-anak yang akan beranjak dewasa. Dimana pada tahap transisi ini mereka akan sibuk melakukan pencarian jati diri dengan berbagai ekspresi tingkah lakunya.

Definisi Remaja
Menurut Sri Rumini & Siti Sundari remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek / fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.

Maka sesuai definisi di atas pelajar tingkat SMP dan SMA adalah remaja, mereka yang pada tahap ini bercelana biru dan abu-abu. Namun masa-masa yang sangat dekat dengan perubahan menuju kedewasaan adalah pelajar SMA.

Banyak orang bilang, cerita masa SMA adalah kenangan yang tak akan bisa terlupa dan selalu manis untuk diingat kembali. Romansa cinta pertama, ketidaktahumaluan yang membanggakan, kuatanya ikatan persahabatan, dan kisah-kisah lainnya.

Kebutuhan Motivasi Manusia
Teori motivasi McClelland mengungkapkan bahwa manusia mempunyai tiga kebutuhan yang akan memotivasinya dalam melakukan sesuatu. Ketiga kebutuhan itu adalah Needs of Achievement (N-ACH), Needs of Power (N-POW), dan Needs of Affiliation (N-AFF). Penjelasannya sebagai berikut, orang-orang yang mengutamakan N-ACH adalah mereka yang membutuhkan pengakuan dari orang disekitarnya, maka orang ini adalah pengejar prestasi dan eksistensi, untuk orang-orang yang mengutamakan N-POW adalah mereka yang mengejar kekuasaan, mereka senang bila berkuasa dan lebih hebat daripada yang lain, dan orang-orang yang mengutamakan N-AFF adalah mereka yang cukup hanya berteman  dengan banyak orang.

Masing-masing individu membutuhkan tiga motivasi ini, hanya saja kadar keutamaan yang dibutuhkan berbeda-beda. Tak terkecuali pelajar SMA, di usia mereka yang belum dewasa, di masa-masa perkembangan kemandirian dan identitas mereka, pelajar memiliki emosi yang sangat labil. Apalagi para pelajar yang hanya mengandalkan pendidikan formal bangku sekolah.

Hubungan Teori Motivasi dan Perilaku Pelajar
Melihat fenomena sepanjang tahun ini atau bahkan tahun-tahun sebelumnya, marak sekali terjadinya perilaku menyimpang para pelajar. Diantaranya merokok, pemakai obat terlarang, minum alkohol, seks bebas, pornoaksi, dan kriminalitas. Kenaikan tingkat kriminalitas yang dilakukan oleh pelajar menjadi top issue akhir-akhir ini.

Aksi tawuran antar pelajar Ssekolah Menengah seringkali menghiasi berbagai media nusantara, termasuk juga aksi tawuran suporter sepakbola yang aktornya tidak lain adalah pelajar. Dalam berbagai aksinya, mereka tak segan untuk saling bacok sampai mati. Bulan September lalu masih dapat kita ingat tragedi tawuran pelajar dengan wartawan. Terlepas dari apa alasan dan latar belakang tragedi tersebut, perlu kita telaah mengapa hal itu seakan-akan menjadi hal yang harus mereka lakukan sebelum memasuki masa yang disebut dewasa.

Tiga kebutuhan motivasi diatas erat kaitannya dengan fenomena yang terjadi belakangan, kebutuhan akan pengakuan mereka lampiaskan dengan aksi berjalan bergerombol atau sering kita lihat mereka selalu nongkrong dipinggir-pinggir jalan pasca pulang dari sekolah bukan langsung kerumah. Kebutuhan akan kekuatan mereka perlihatkan dengan ejek-ejekan ketika ada rekan pelajar sekolah lain yang melintas di depan tongkrongannya. Ejek-ejekan ini akan berakhir pada sebuah tragedi tawuran manakala yang melintas pun adalah segerombol pelajar. Baku hantam yang diakhiri kemenangan akan membuktikan kehebatan dan akhirnya pengakuan bahwa mereka juara.

Dan kebutuhan akan pertemanan sudah jelas terlihat ketika mereka selalu bergerombol dimanapun mereka berada, hingga berujung pada sifat high solidarity, ketika ada rekan mereka dihantam pelajar lain maka mereka tak segan-segan melakukan pembalasan yang lebih besar.

Kebiasaa ini tertular ke generasi selanjutnya dan akhirya menjadi cara untuk mendapatkan kebutuhan motivasi yang mereka inginkan. Cara ini pun akhirnya menjadi budaya tanpa mereka sadari. Hal ini jelas mengartikan bahwa selama ini kebutuhan motivasi pelajar belum terpenuhi di tempat ia beajar maupun di lingkungan tempat ia tinggal.

Olahraga sebagai alternatif
Banyak solusi yang ditawarkan atas perilaku menyimpang pelajar khusunya tindak kriminal pelajar, mulai dari penataan kurikulum penddikan, penciptaan pendidikan karakter, pendidikan spiritual dan pendidikan emosional. Namun semuanya masih terlihat abstrak dan tak terimplementasikan. Bolehlah solusi-solusi tersebut disiapkan untuk jangka panjang namun apakah dalam kurun waktu penyempurnaan sistem penanggulangan tersebut kita harus terus melihat berbagai aksi pelajar yang semakin tak manusiawi. Dan apakah kebutuhan motivasi mereka terpenuhi.

Maka dari itu, penulis berkesimpulan bahwa olahraga adalah sarana utama pemenuhan kebutuhan motivasi pelajar, karena pemuda dan olahraga sangat erat kaitannya. Pelajar yang masih bertenaga dan olahraga yang membutuhkan tenaga. Tiga motivasi yang telah diuraikan di muka akan didapatkan dari berbagai kegiatan olahraga. Coba kita bertanya pada para pelajar, siapa sih yang tidak menyukai pelajaran Olahraga? Penulis yakin semua pelajar suka. Apabila kebutuhan akan motivasi mereka terpenuhi, sedikit demi sedikit cara mereka memenuhi kebutuhan motivasi untuk melakukan sesuatu akan beralih dari tawuran menjadi kegiatan olahraga.

 
Eko Wardaya
Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Musim Indonesia (KAMMI) Bogor