Senin, 21 Mei 2012

Hari Kebangkrutan atau Kebangkitan

Dimuat di Harian Suara Karya Senin 21 Mei 2012
www.suarakarya-online.com/news.html?id=303689

Hari ini kita dipertontonkan suatu pertunjukan yang sangat mengharukan. Bukan karena kemenangan Chelsea untuk kali pertama meraih gelar juara Liga Champion, tapi berkaitan dengan realitas negeri tercinta ini, yaitu kegagalan untuk bangkit. Telebih karena para pemuda di nusantara ini tertidur lelap, baik dalam arti peran maupun fisik.

Tepat ahad 20 Mei dini hari, babak Final Liga Champion digelar. Setelah malam hari (baca: malam minggu) pemuda pemudi berlalu lalang di jalanan, kongkow-kongkow di kafe ataupun area nongkrong lainnya di pusat dan sudut kota. Mayoritas mereka melanjutkan aktifitas untuk menonton bola, begadang semalaman sampai Subuh.

Tak ada yang ingat bahwa hari ahad bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, mungkin ada yang ingat tapi tak peduli. Lebih banyak yang ingat bahwa 20 Mei bertepatan dengan Final Liga Champion. Tua, muda, baik laki-laki maupun wanita banyak yang serupa terjebak akan kealfaan terhadap momen bersejarah ini.

Tengoklah pada pagi hari, fisik mereka pun terlelap tidur seharian, mengobati perih mata kala begadang. Kian lupa bahwa hari ini adalah Hari Kebangkitan Nasional. Lengkaplah sudah penderitaan hati bunda pertiwi, tanah air Indonesia. Disaat realitas sosial yang tak kunjung menemukan kesejahteraan, kini diperparah oleh tabiat lemah para pemuda yang notabene berlabel agent of change.

Hari Kebangkrutan Nasional


Hari ini kita dipertontonkan suatu pertunjukan yang sangat mengharukan. Bukan karena kemenangan Chelsea untuk kali pertama meraih gelar juara Liga Champion, tapi berkaitan dengan realitas negeri tercinta ini, yaitu kegagalan untuk bangkit. Telebih karena para pemuda di nusantara ini tertidur lelap, baik dalam arti peran maupun fisik.

Tepat ahad 20 Mei dini hari, babak Final Liga Champion digelar. Setelah malam hari (baca: malam minggu) pemuda pemudi berlalu lalang di jalanan, kongkow-kongkow di kafe ataupun area nongkrong lainnya di pusat dan sudut kota. Mayoritas mereka melanjutkan aktifitas untuk menonton bola, begadang semalaman sampai Subuh.

Minggu, 20 Mei 2012

Mari (Mulai) Menulis Lagi

Dimuat di Annida Online Selasa 22 Mei 2012
http://www.annida-online.com/artikel-5527-mari-mulai-menulis-lagi.html

“Alasan merupakan penyakit kronis dari setiap orang negatif. Setiap langkahnya dalam mengerjakan sesuatu biasanya telah di-back up dengan berbagai alasan-alasan yang tersusun rapi, seolah-olah telah dipikirkan terlebih dahulu sebelum ia memulai pekerjaan. Penyakit ini sungguh berbahaya bagi kehidupan kita, ia bukan saja menyerang sendi-sendi pemikiran kita, tetapi ia juga akan masuk merangsek ke hati kita. Pada stadium lanjut, ia akan menjadi kebiasaan yang begitu dominan dalam hidup kita”. (Super Muslim-Imam Munadi)  

Dalam tulisan sebelumnya “Mari Mulai Menulis”, penulis mengajak anda sekalian untuk bergegas mengambil pena dan menciptakan sebuah lompatan dalam hidup anda, yaitu dengan menulis. Kini dihadapan anda, penulis hadir kembali dengan sajian “Mari (Mulai) Menulis Lagi” sebagai lanjutan atas karya lalu. Tidak hanya untuk anda yang baru mulai menulis, tapi untuk anda yang sedang vakum dari dunia kepenulisan.

Selasa, 15 Mei 2012

FTS-Keyakinan 200%

Dimuat dalam Buku Antologi "Dalam Genggaman Tangan Tuhan"

Sore itu aku tak sengaja bertemu dengan kawan di sebuah Masjid. Ia mengajakku bertemu dengan dosenku di kampus dulu. Niat awal yang hanya ingin silaturahmi ternyata membawa rezeki, Dosenku membuka peluang kerja bagiku. Aku sangat takjub dengan-Nya. Keajaiban ini datang disaat aku belum terbayang dimana akan mencari pendapatan. Tak hanya itu, pekerjaan ini pun masuk dalam kriteria yang aku inginkan, yaitu mempunyai banyak waktu luang.
Sebelumnya hanya bermodalkan keyakinan yang kuat aku berhenti dari pekerjaanku. Keputusan tersebut dikarenakan tersitanya waktu hidupku di kantor sehingga hampir menjadikanku hamba materi. Aku ingin lepas dan kembali pada-Nya karena uang bukan segalanya.

Eko Wardaya

FTS-Buah Ikhlas


Semua terjadi pada akhir tahun kemarin, disaat aku akan mengirim uang untuk biaya kuliah sahabatku yang tidak mampu, ternyata tak ada saldo yang cukup di rekeningku, hanya tersisa tiga ratus ribu untuk biaya hidupku awal tahun ini. Aku termenung bukan karena tak punya uang tapi bagaimana nasib biaya kuliah sahabatku. Akhirnya aku putuskan untuk memberikan semua uang yang tersisa di ATM. Aku hanya berharap Allah membantuku bertahan hidup pada tahun depan.
Satu minggu berlalu aku terkaget membaca pesan singkat dari temanku yang lain di Jakarta. Ia mengatakan akan mengirimkan uang enam ratus ribu senin pekan depan. Ternyata terjadi kekeliruan transfer sebelumnya saat dahulu ia meminjam uang dariku. Sama sekali di luar dugaan, karena dari awal aku telah mengikhlaskan uang tersebut. Luar biasa, terbayar sudah niat memberi uang kepada sahabatku. Sahabatku lanjut kuliah dan akupun mampu bertahan hidup.

Eko Wardaya

Sabtu, 12 Mei 2012

Mari Mulai Menulis

Dimuat di Islamedia.web.id Senin 14 Mei 2012
http://www.islamedia.web.id/2012/05/mari-mulai-menulis.html
dan di Annida Online Selasa 15 Mei 2012
http://www.annida-online.com/artikel-5490-mari-mulai-menulis.html

“Aku tidak suka menulis, aku tidak bisa menulis”, ungkapan yang seringkali terdengar di telinga penulis ketika mencoba mengajak teman untuk menulis. Padahal mereka mahasiswa yang seharusnya telah mempunyai kecakapan sadar menulis. Apalagi kini para calon sarjana telah diwajibkan membuat karya tulis ilmiah. Mau tidak mau, suka tidak suka maka akan tiba suatu masa ketika mereka diminta menulis.

Ingatkah kita ketika dilatih menulis sejak dini. Pada tahap sekolah dasar, ibu bapak guru bahasa Indonesia kerapkali menugaskan kita untuk mengarang cerita. Kemudian mulai SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi kita dihadapkan pada tugas-tugas yang membutuhkan pikiran genial untuk dituangkan, sebut saja paper, makalah, tugas KKN, skripsi dan lain-lain. Belum lagi orang yang gemar menulis diari sebelum tidur.

Ayo Ambil Penamu


Dunia seringkali menceritakan manusia hina
Tapi buku lebih sering berkisah tentang ksatria
Nisan hanya meninggalkan duka
Berbeda dengan Negarakertagama

Soekarno pernah bilang JAS MERAH
Al Quran memuat hikmah
Benar adanya “Di Bawah Bendera Revolusi”
Tepat Khalifah Usman melakukan kodifikasi

Rabu, 18 April 2012

Butuh Penanganan Segera!

Sungguh mengganggu, selalu tercipta genangan air pasca hujan besar. Tepatnya di Jalan Soleh Iskandar daerah Kayu Manis. Saya melihat langsung sesaat setelah hujan reda pada hari Selasa 17 April. Sudah tidak perlu lagi ditanyakan kepada masyarakat apa hal tersebut mengganggu atau tidak. Sudah jelas itu menghambat laju kendaraan hingga menimbulkan macet panjang.

Apa iya pemkot Bogor tidak tahu? saya rasa pemkot sudah tahu tapi seringkali pemkot lambat dalam bertindak. Lebih khawatir lagi pemkot itu kebanjiran uang disaat jalan kota kebanjiran air. Lihat saja perbaikan setengah hati Jalan seberang daerah UIKA yang mengalami kejadian serupa, padahal belum lama ada perbaikan. tapi jika memang tidak seperti itu buktikan. Tangani segera laporan saya.


Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor

Rabu, 11 April 2012

Menyoal Demonstrasi Anarkis Gerakan Mahasiswa

Satu pekan telah berlalu, palu sidang kesepakatan politik UU APBN-P 2012 telah diketuk. Namun terlalu banyak residu kompromi politik yang tersisa. Mulai dari polemik pasal “siluman” dalam UU APBN-P yang oleh banyak kalangan atas nama rakyat didaftarkan ke Mahkamah Konstitusi untuk dilakukan pengujian materi. Dan goyangan di tubuh internal Pemerintah terkait tudingan pembangkangan salah satu Partai anggota Setgab. Sampai tingginya harga sembako yang tak kunjung turun padahal kebijakan penaikan harga BBM telah ditunda.

Multiefek yang dihasilkan agaknya tidak berhenti sampai disini karena stakehoder yang ada sedang mencari peran dalam dramaturgi kelanjutan isu BBM. Semuanya ingin menjadi pahlawan di mata rakyat. Namun disamping gejala sosial dan politik yang timbul ada pula hal yang masih menarik untuk dijadikan wacana diskusi, khususnya oleh aktifis gerakan mahasiswa sebagai subjek daripada demontrasi-demonstrasi yang marak berlangsung menjelang dan sampai  UU APBN-P 2012 ditetapkan.

Sabtu, 07 April 2012

Apa Pantas Disebut Mahasiswa?

Dimuat di Media Indonesia.com Sabtu 7 April 2012

Mulai dari fasilitas pemerintah seperti pagar DPR, pos polisi, dan mobil pelat merah serta fasilitas publik seperti pintu tol dan pagar tol rusak semua akibat ulah demonstran satu pekan lalu. Bahkan teganya para demonstran juga merusak fasilitas pribadi seperti kendaraan operasional pengusaha air minum dan SPBU. Ulah demonstran yang masih berstatus mahasiswa ini memang adalah sebuah wujud perlawanan dan penyampaian pesan kepada pemerintah terkait penolakan mereka terhadap kebijakan penaikan harga BBM.

Jumat, 06 April 2012

KAMMI Selalu Dinanti

Dalam gelap kau datang menyinari
Dalam duka kau datang menghampiri
Tetap berdiri tegar dalam jalan berduri
Terus mengobarkan semangat bangun negeri

Kau di balut kemurnian
Sejak awal kala gerhana kegelapan
Sampai kini terik neraka dunia
Kau tetap berlian dalam nestapa

Biar garuda di dada
Palestina tak akan lupa
Ketika saudaramu merana  nan jauh disana
Merah putih akan berkibar pula dekat disini

Tak lekang oleh waktu
Tak lelah karena jalan panjang
Niatmu sedari awal tetap tertahan
Karena kau memang cahaya bangsa

Kokoh berdiri kuat menerjang
Ombak digunakan bukan dilawan
Tuk satu punya tujuan
Tuk bela tanah pertiwi

Hingga nanti tekad bulat
Tak pernah padam
Akan memimpin masa depan
Sebagai pembuktian teriakan jalanan

Karena kau selalu dihati
Kau selalu dinanti
Indonesia  tempat lahirmu
Dan dunia rumahmu sendiri



Eko Wardaya

Kamis, 22 Maret 2012

Jangan Termakan Pengalihan Isu

Pro kontra kenaikan BBM masih menjadi topik hangat pembicaraan dimanapun. Baik di kalangan intelektual maupun rakyat. Masih pula menjadi headline di media cetak, elektronik juga menjadi topik utama diskusi-diskusi publik nasional dan daerah.

Sesaat kita tanpa sadar mulai melupakan kasus-kasus korupsi yang mencuat pra terjadinya pro kontra kenaikan BBM. Inilah jurus jitu pengalihan isu penguasa manakala sudah terdesak, manakala sudah terlihat borok bobroknya penegakan di bidang hukum atau bidang lainnya.

Kepada seluruh masyarakat negeri, tetap buka mata kita unutk terus mengawal penegakan kasus-kasus korupsi macam wisma atlet dan century, jangan kita tersandera perdebatan tentang kenaikan BBM saja. Kita harus lebih cerdas menghadapi oknum penguasa yang licik.


Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor

Mahasiswa Akan Terus Bergerak

Lebih dari sepekan saya melihat banyak keluhan yang disampaikan rakyat melalui berbagai mimbar bebas, ya keluhan kepada penguasa yang berencana menaikkan harga BBM. Maka sudah sangat nyata bahwa aspirasi masyarakat mengisyaratkan keinginan untuk hidup lebih baik bukan malah memburuk seiring dengan naiknya harga kebutuhan pokok yang merupakan imbas dari kenaikan harga BBM.

Terimakasih saya ucapkan atas nama mahasiswa berkat dukungan dan apresiasinya kepada kami terkait usaha kami menolak kenaikan harga BBM. Walaupun dalam mana kami beraksi, pukulan polisi dan gigitan anjing sering menghantui, kami tak akan gentar. Mahasiswa sebagai agen of change dan social control sudah seahrusnya terus menyuarakan aspirasi rakyat.

Kami rela berkorban asalkan penguasa bisa sadar dan rakyat dapat hidup nyaman. Maaf bila aksi kami mengganggu kenyamanan di jalan, itu bukan tujuan kami, itu hanya pesan agar pemerintah mendengar dan membuka mata lebar-lebar. Mahasiswa akan dan harus terus bergerak demi rakyat.

Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor

Rakyat Bukan Boneka

Isu kenaikan BBM kian hari semakin mendapat perhatian dari seluruh elemen rakyat seantero negeri. Hampir setiap hari terjadi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM. Mahasiswa, masyarakat sampai anak sekolah.

Namun sangat disayangkan, alih-alih ingin memperjuangkan aspirasi rakyat. Banyak kelompok-kelompok kepentingan yang memakai massa rakyat yang sudah terorganisir sebelumnya.

Massa rakyat yang sudah memiliki agenda perjuangan kepentingan mereka sendiri macam Kelompok korban SUTET tiba-tiba menanggapi isu BBM juga. Isu kenaikan BBM silakan dijadikan momentum emas bagi para pesaing Presiden, tapi jangan peralat rakyat karena ketidaktahuannya.


Eko Wardaya
082123664650

Bergerak Bersama, Upaya Metamorphosis Gerakan

Dimuat di KAMMI.or.id Selasa 20 Maret 2012
http://kammi.or.id/?p=292


Adakah Kau lupa
Kita pernah berjaya
Adakah Kau lupa
Kita pernah berkuasa
(Alarm Me)

Penggalan lirik lagu diatas membawa kita untuk membuka kembali sejarah gilang gemilang Islam di masa lalu. Lebih tepatnya dapat dikatakan teguran untuk kita sehingga bukan hanya diminta untuk melihat kembali tapi mempelajari kemenangan demi kemenangan yang pernah terjadi, kekalahan-kekalahan yang pernah dirasa. Karena ada hikmah yang sangat bermanfaat dari kisah lampau para pendahulu umat ini.

Perubahan zaman seakan memangsa kesuksesan pejuang Islam hingga terlunta-lunta pada episode zaman hari ini. Sangat wajar apabila umat Muslim mendapat teguran keras akibat kealphaannya mencari hikmah masa lalu. Tak peduli kealphaan tersebut dampak dari rekayasa musuh-musuh Islam atau bukan, namun yang terjadi bisa kita lihat hari ini.
 
Sekilas Menuju 14 Tahun KAMMI dan Gelora Kebangkitan Islam

KAMMI sebagai organisasi mahasiswa Islam tak bisa dilepaskan dari rangkaian sejarah perubahan negeri ini kala reformasi bergulir. Pun juga tak bisa dielakkan dari bagian eksistensi perjuangan pemuda Muslim dalam upaya membangkitakan kembali keagungan peradaban Islam yang semakin memudar di era milenium ini.

Embrio gerakan yang tertanam sejak tahun 80-an akhirnya matang pada 29 Maret 1998 dengan nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Sebuah organisasi yang tak disangka publik paling siap jaringannya dan paling kokoh memiliki bangunan massa. Siapa kira pemuda-pemuda yang beraktifitas di masjid ini memberi andil yang besar dalam menggulingkan rezim otoriter Soeharto.

Tak ada satu pun pengamat yang mampu memotret sebelumnya kemunculan dan pergerakan KAMMI. Adapun di detik-detik setelah kemunculannya, terdapat kecurigaan yang diendus awak media. Curiga dengan basis massa yang luas sehingga menyimpulkan KAMMI didomplengi oknum kepentingan politik saat itu. Hal yang tidak perlu ditanggapi terlalu berlebihan, karena memang publik belum mengetahui dibalik sejarah kelahiran KAMMI seperti di paparkan di muka.

Heroisme aksi-aksi KAMMI diawal kemunculannya tak berhenti sampai saat Soeharto turun jabatan, tapi terus bergulir mengemban misi abadi menegakkan peradaban Islam. Era reformasi yang diinterpretasikan banyak pihak sebagai zaman kebebasan menimbulakan asa, tantangan, dan ancaman bagi segenap rakyat Indonesia, tentunya KAMMI. Dahulu aktifis KAMMI perlu bersembunyi untuk melakukan pertemuan-pertemuan religius ataupun politik gerakan, kini semua telah berubah.

Perubahan konfigurasi poitik dan petumbuhan demokrasi tanah air mencapai klimaksnya saat terjadi amandemen Konstitusi 1945 hingga empat kali. Celah kebebasan yang ada membuat persemaian dakwah Islam kian lancar. Yusuf Qardhawi bahkan sempat berkata bahwa kebangkitan Islam akan bermula dari Indonesia seperti yang tertuang dalam Buku Geliat Kebangkitan Dakwah di Era Baru. Semua itu terlihat dari perkembangan drastis gerakan-gerakan dakwah Islam di Indonesia baik tradisional maupun transnasional, baik dalam bentuk ormas maupun partai.

Tak pelak KAMMI pun tertimpa dampak kebebasan tersebut. Perkembangan keorganisasian kian mantap dengan label ormas mahasiswa, pembenahan berbagai instrumen gerakan dan pertumbuhan kuantitas serta kualitas kader menunjukkan perkembangan gerakan dari masa ke masa hingga akhirnya KAMMI akan menginjak umur ke-14 pada 29 Maret 2012 nanti. Tak banyak yang akan diceritakan berkaitan sejarah perjalanan KAMMI dalam tulisan ini. Karena sudah banyak artefak-artefak sejarah yang menjelaskan secara gamblang haru biru dan duka lara kehidupan organisasi ini.

Prolog di atas dirasa cukup untuk menghantarkan seluruh kader KAMMI khusunya kader KAMMI se-Bogor untuk kembali membuka album kenangan KAMMI, salah satunya buku Gerakan Perlawanan Dari Masjid Kampus karya Andi Rahmat dan M Najib serta buku KAMMI dan Pergulatan Reforasi karya Mahfudz Sidiq. Kini akan bersama-sama kita merasuk ke dalam memori indah KAMMI Bogor ketika menjadi barisan terdepan penghujam panah keadilan di  Bogor.

Senandung “Tegar Beriman” KAMMI Bogor
Tegar Beriman sebagaimana kita ketahui bersama merupakan motto juang Kota dan Kabupaten Bogor. Di tanah sunda peninggalan Kerajaan Pajajaran ini aktifis-aktifis masjid segera merespon kelahiran KAMMI. Sesaat setelah Deklarasi Malang KAMMI Daerah Bogor yang saat itu disebut JARDA (Jaringan Daerah) Bogor terbentuk dan segera ambil bagian dalam pagelaran-pagelaran aksi bulan Mei 1998.

JARDA Bogor berada dalam koordinasi JARWIL (Jaringan Wilayah) IV Jawa Barat. Tapi dalam aksi-aksi penggulingan rezim, JARDA Bogor khusus dimobilisasi untuk memperkuat “pasukan” di Jakarta. Tidak hanya bergerak di Ibukota, JARDA Bogor pun pernah melakukan demonstrasi besar di lapangan IPB Baranang Siang.

Penegakan motto Tegar Beriman di Bogor semakin terorganisir setelah JARDA dihapuskan menjadi KAMMI Daerah pasca kesepakatan Muktamar 1 KAMMI di Bekasi 1-5 Oktober 1998. Pengokohan infrastruktur dalam perjalanannya mempunyai signifikansi utuh dalam upaya membumikan visi KAMMI di Bumi Pajajaran.

Periode pertama pimpinan saudara Ery Nugroho, KAMMI Daerah Bogor memiliki basis kampus di Akademi Kimia Aanalisis, Institut Pertanian Bogor, Univeritas Ibnu Khaldun, Universitas Djuanda, Universitas Pakuan, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Laa Roibaa, bahkan di IPB bentuknya adalah Komisariat-Komisariat Fakultas. Ada pula basis kerjasama ekstraorganisasi bersama HMI DIPO, PII, HAMAS, DPM UIKA, PPM ULIL ALBAB, PP Al Azhar, Lembaga El Rahma, BKIM IPB, PP Darut Taqwa Cibinong, PP Putri Tarbiyatunnisa, Liga Muslim Indonesia.

Hubungan aktif bersama elemen lain membuahkan hasil positif ketika dilakukannya aksi gabungan untuk mengadvokasi keresahan masyarakat RW 02 dan 03 Tanah Sareal akibat adanya rencana pembangunan komplek kegiatan oleh Lembaga Alkitab di Jalan Ahmad Yani. (Harian Republika 16 September 2000).

Tak kalah prestatif, bahkan KAMDA Bogor periode kedua dibawah pimpinan saudara Yuli Widi Astono merumuskan Renstra 2006 pada awal kepengurusan. Renstra 2006 adalah upaya KAMDA Bogor menciptakan masa depan gerakan untuk beraktualisasi lebih baik dan luas di masyarakat. Implikasi dari Renstra 2006 termanifestasikan dalam gerakan KAMDA saat itu, salah satunya mampu mengukir nama KAMMI sebagai nama jalan sepanjang 2 km (Jl HS KAMMI) yang mana merupakan hasil aksi advokasi KAMDA Bogor bersama warga kampung Malangbong ke DPRD Kabupaten Bogor  untuk menuntut keadilan pemerataan jalan.

Luar biasa memang, KAMMI yang masih berusia balita telah banyak mengukir prestasi dan mampu menjadi opinion leader . Bayi yang baru lahir, tangisannya memang menjadi perhatian orang disekitarnya. Tak cukup goresan pena singkat ini untuk menggambarkan keseluruhan benang sutra peradaban yang di rajut KAMMI Bogor. Agaknya beberapa poin di atas kembali menstimulus kita dengan pertanyaan-pertanyaan, introspeksi ataupun proyeksi.

Melanjutkan Bukan Memulai dari “nol”

Mubazirnya sebuah konsep gerakan dikarenakan adanya tradisi buruk sebuah generasi untuk selalu ingin memulai dan menafikkan mata rantai sejarah. Inilah salah satu faktor munculnya konflik antar generasi disamping berbagai penafsiran buruk atas para pendahulunya. Tak usah kaget apabila problematika gerakan terus berulang bahkan menyita waktu sehingga melalaikan sebuah visi besar peradaban.

Bagaimana mungkin kita lupa dengan fakta sejarah KAMMI Bogor karena kita pun memang tidak tahu menahu akan kondisi itu. Tapi kita lupa untuk menggalinya, kita lupa bahwa perjalanan suatu bangsa bak roda berputar. Kita lupa bahwa kita adalah pewaris generasi sebelumnya yang sedang membawa tongkat estafet mengitari arena perlombaan. Perlombaan kebaikan untuk kemenangan perjuangan Islam.

Pekerjaan sangat berat apabila kita mulai dari “nol”, sebaliknya pekerjaan akan terasa lebih mudah apabila telah ada yang memulainya. Dibalik tantangan bahwa mempertahankan lebih sulit dibanding merebut, keteraturan gerakan akan menemukan formulasi sesuai yang diinginkan zaman dengan mengikuti nasihat SBY, lanjutkan.

Solid dan Sinergis, Langkah Awal Upaya Metamorphosis Gerakan
Di zaman era informasi ini KAMMI pun perlu merumuskan stratak gerakan sesuai kondisi zaman. Wacana perubahan gerakan mobilisasi massa ke gerakan intelektual mengemuka di jagad pergerakan saat ini. Relevan atau tidak sebuah aksi massa terus diperbincangkan hingga diperdebatkan. Tak sadar waktu habis hanya untuk berdebat tanpa karya nyata di lapangan perjuangan.

Metamorphosis gerakan memang mutlak di wujudkan seiring bertambahnya usia KAMMI. Itupun jika KAMMI tidak ingin seperti gerakan mahasiswa lain yang terlihat punah. Mungkin karena umurnya yang sudah tua, padahal semakin dewasa umur gerakan harusnya menjadikan gerakan tersebut kian matang. Realitanya banyak gerakan mahasiswa tua renta yang amnesia. Amnesia gerakan ini mencerabut ruh-ruh kelahirannya, untuk apa dilahirkan, dan mau kemana mereka berjalan.

Konsepsi seperti apapun yang kemudian akan dihasilkan dalam wacana dialektika kader, tetap saja tak bisa dilakukan oleh seorang nahkoda kapal. Sehingga KAMMI Bogor pun memulai semua itu dengan Solid dan Sinergis . Inilah kunci pembuka untuk melanjutkan gerakan tempo dulu ala KAMMI Bogor. Biasa disebut dalam Trias “S” yang sering disampaikan saudara Maulana, Ketua Umum PD KAMMI Bogor kali ini. Sebuah langkah mungkin sepele bagi sebagian khalayak, tapi seringkali terlalaikan.   

Untuk tujuan mulia itulah perlu dimulai reformasi dalam tubuh gerakan sebelum berlanjut pada tahap metamorphosis gerakan. Setidaknya ada dua dimensi inheren yang perlu direformasi segenap struktural KAMMI se-Bogor (Daerah maupun Komisariat) ataupun se-Indonesia, yaitu dimensi internal dan eksternal. Pertama, dimensi internal mencakup  soliditas kader dan sinegi ruang waktu. Soliditas kader akan dicapai manakala ada saling kepercayaan di antara manusia dalam satu organisasi, dan kepercayaan akan hadir disaat keterbukaan masing-masing inividu sudah tertanam yang merupakan bentuk kebutuhan jatidirinya sebagai makhluk sosial. Adapun maksud daripada sinergi ruang waktu adalah upaya mengobati amnesia gerakan, melanjutkan bukan memulai dari “nol”.

Kedua, dimensi eksternal, hubungan dengan elemen masyarakat, gerakan lain, pers dan penguasa. Implementasi misi KAMMI sebagai perekat komponen bangsa perlu terus ditajamkan karena eksklusifisme gerakan ideologis masih kentara hingga hari ini. Tak ada gerakan yang memulai bukan karena mereka enggan bekerjasama, tapi tak ada Leader di Bogor. KAMMI Bogor harus menjadi Leader yang dinanti dengan masuk ke seluruh jaringan masyarakat dan gerakan lain. Gerakan alit tak berarti membutuhkan dana yang besar macam mendirikan desa binaan saja, tapi lebih dari itu adalah hubungan intensif-bermanfaat.

Hubungan ini pun berlaku pada Pers yang merupakan teman “lama” KAMMI Bogor, kehadirannya melaporkan informasi ke publik akan ikut mendongkrak bargaining power gerakan ini. Saatnya merangkul kembali teman “lama” kita dan mengobati kekecewaannya dengan feed-back hadiah berita aksi-aksi kebaikan KAMMI. Pertemanan bukan karena kepentingan pribadi namun untuk rakyat. Pers bukan sebatas teman tapi sahabat.

Terakhir, pemerintah (bersama tangan-tangan keamanan: Polisi, Satpol PP, Korem, dll) bukanlah musuh abadi KAMMI. Musuh abadi KAMMI adalah kebatilan, sehingga seyogyanya KAMMI Bogor merapat menjadi ekstra-mitra-kritis pemerintah. Selama ini nampaknya gerakan ballancing power kerap kali dilakukan namun realitanya suara KAMMI Bogor tak bergaung. Sejatinya seorang mitra kerja perlu kontinuitas mengawasi pekerjaan satu sama lain.


Menyongsong milad KAMMI dan metamorphosis gerakan, mari bergerak bersama. Selamat milad KAMMI ke-14 bagi segenap kader KAMMI se-Bogor dan se-Indonesia.


Eko Wardaya
Wakil Ketua PD KAMMI Bogor

Senin, 19 Maret 2012

Cermin Senja

Dimuat di Dakwatuna.com 
http://www.dakwatuna.com/2012/03/19234/cermin-senja/

Ada orang bicara besar
Tapi kaki melangkah kecil

Ada orang bernyali besar
Tapi tak ada podium kebanggaan

Ada orang bernada lantang
Tapi tak pernah menjamah kemenangan

Dan ada wajah berseri mekar
Tapi miskin hati buta mata

Impian bercampur khayal
Entah imaji atau lamunan

Cita kian menjadi angan
Tak ada capaian

Seperti hanya cinta
Cinta dunia senang semesta

Itukah kita hidup pada hari ini
Esok dan seterusnya?




Eko Wardaya

Minggu, 11 Maret 2012

Dara Berjuang

Disampaikan pada Latihan Dasar Kepemimpinan Senat Mahasiswa Akbid Pelita Ilmu Depok

Bersama, bersua
Tak hanya jiwa
Tapi hati turut serta

Canda tawa
Sunyi senyap
Kadang kantuk dirasa

Dalam dekapan tangan Tuhan
Wanita muda bangsa
Belajar, belajar, belajar

Tuk satu punya mimpi
Nusantara negeri nurani
Buah karya muda mudi

Tuk suara keadilan
Bidadari pasti bisa
Berdikari untuk negeri

Selamat Hari Perempuan

Depok, 9 Maret 2012


Eko Wardaya

Rabu, 07 Maret 2012

Jangan Asal Beri Bantuan

Dimuat di Harian Radar Bogor Senin 5 Maret 2012

Bencana longsor yang menimpa kampung Padasuka Kecamatan Bogor Tengah memang sangat membutuhkan uluran tangan segenap masyarakat Kota Bogor bahkan Indonesia, baik materil maupun imateril. Hal tersebut bukan berarti tidak ada kebutuhan prioritas yang mendesak diperlukan oleh korban bencana. Semua ini dapat kita lihat langsung dari kondisi korban di tempat pengungsian.

Bagi Pemerintah, Aktivis, atau siapa pun yang berniat memberikan bantuan bagi korban, sungguh bijak kiranya bisa menanyakan langsung ke lokasi, apa sebenarnya yang mereka butuhkan. Agar bantuan yang diberikan tepat guna dan tepat sasaran. Ada beberapa bantuan yang ditahan karena khawatir overload, seperti kata Pak RW setempat. Jadi menghindarkan kemubaziran. Susu bayi, pakaian anak kecil, dan alas tidur saat ini lebih dibutuhkan. Dikarenakan makanan dan tenaga fisik relawan sudah banyak.


Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor



Senin, 05 Maret 2012

Bogor Kota (Tak) Beriman?

Jargon Bogor Kota Beriman luluh lantah saat ditemukannya kondom berserakan di area  underpass Kebun Raya Bogor. Hal ini menandakkan tak adanya itikad Pemerintah Bogor menjadikan Bogor benar-benar Kota Beriman. Sudah bisa kita tebak apa yang terjadi di underpass KRB dengan ditemukannya barang jijik seperti itu. Tentunya perilaku menjijikkan pun sering berlangsung disana.

Moral masyarakat Bogor kian terkikis terlebih ditambah merebaknya kembali THM “nakal” dan aktivitas didalamnya. Pun juga virus amoral ini melanda para remaja ingusan yang masih duduk di bangku sekolah. Mereka yang masih berseragam banyak kedapatan membawa alat kontrasepsi di tas atau saku celana mereka. Ini bukti nyata kalau memang Kota Bogor tak pantas menyandang gelar Kota Beriman.

Dalam kondisi seperti ini pemerintah perlu sigap, strategi struktural dan kultural harunya secara masif segera dilaksanakan. Tapi entah mengapa yang terjadi sebaliknya, jadi sangat mengkhawatirkan, jangan-jangan para pejabatnya secara tak sadar juga sudah terus melemah imannya atau bahkan sudah lagi tak beriman? Semoga tidak. Jika memang tidak buktikanlah dengan tindakan nyata.

Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor

Sejarah Bogor Itu Penting

Bogor sebagai daerah yang dekat dengan Ibukota sangatlah strategis sebagai tempat singgah para perantau. Padatnya kota Jakarta tak jarang membuat banyak orang memilih bertempat tinggal di Kota Beriman ini, walaupun mereka bekerja di Ibukota. Tak ayal, beragam suku banyak terlihat disini, dari mulai Jawa, Batak, Padang, dan banyak lagi.

Kemajuan zaman di bidang teknologi dan informasi membuat Bogor pun berubah, sedikit demi sedikit kebudayaan mulai terdistorsi, apalagi ditambah faktor banyaknya penghuni rantau disini. Bukan bermaksud menyalahkan warga pribumi ataupun warga rantau, namun realita fakta ini erat kaitannya denagn perubahan zaman.

Mungkin berbeda apa yang terjadi di lingkar kota Bogor dan yang terjadi di pedesaan, namun agaknya tetap terlihat bahwa zaman telah mengikis keunikan budaya Bogor. Jika pada tahun 90an sampai 2000an dahulu anak-anak (termasuk saya) masih bermain gatrik, engkle, dan permainan tradisional Bogor lainnya, kini kita sudah kehilangan itu semua.

Maka, rencana akan pembuatan Buku Sejarah Bogor sangat perlu diapresiasi dalam bentuk dukungan pemerintah dan masyarakat Bogor. Sebagai artefak yang kemudian hari akan mengingatkan kita tentang akar kehidupan yang ada disini. Terlebih bagi generasi muda Bogor. Sebagaimana kita ketahui, dari sejarahlah kita akan membangun masa depan yang lebih baik. Harapan besar agar jati diri masyarakat Bogor tidak akan tercerabut hilang di makan zaman harus dimunculkan kembali.

Akan lebih baik lagi jikalau sejarah Bogor dimasukkan sebagai mata pelajaran muatan lokal dalam  kurikulum pendidikan di Sekolah. Kecintaan dan kebanggan akan Bogor akan tumbuh saat masyaraktnya mengetahui perihal kegemilangan Bogor di masa lalu. Spirit membangun Bogor pun tertular tak hanya di kalangan warga pribumi, namun juga perantau. Jangan sekali-sekali engkau melupakan sejarah, begitu kata Bung Karno.

Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor


Tindak Tegas THM “Nakal”

Masih teringat bagi warga Bogor akan hebohnya THM “nakal” dan “liar” yang dipermaslahkan berbagai ormas Islam sebelum Ramadhan tahun lalu. THM yang melanggar jam operasioanl sampai melanggar perizinan terungkap satu per satu. Aksi demonstrasi hampir tiap pekan karena THM tersebut meresahkan warga Kota bogor terlebih akan menyambut Bulan Ramadhan. Sehingga pada akhirnya mendapat respon anggota Dewan dan pemkot Bogor.

Upaya penertiban yang dipercayakan sepenuhnya kepada jajaran pemkot yang bertanggungjawab agaknya hanya sesaat saja. Kini ketika Ramadhan telah berlalu dan tahun telah berganti kita kembali diperlihatkan munculnya para THM ‘nakal” itu. Faktanya  Rabu (22/2) seperti apa yang diberitakan oleh Radar Bogor membuat warga terkaget-kaget. Dalam razia gabungan tersebut didapat THM “nakal” yang menyalahi jam operasi dan perizinan.

Apa pasal yang menyebabkan  masalah ini terulang kembali? Perlu kita mengurai lebih dalam terkait masalah ini. Bukan tidak mungkin oknum pemerintahan pun banyak yang “nakal” dimana merekalah dalang dibalik bertahannya THM “nakal” yang ada. Jika memang tidak ada harusnya jajaran yang bertanggungjawab bisa tegas menindak dan menertibkan THM “nakal”. Jangan hanya memberi peringatan atas hal yang terlihat nyata saja. Pemkot harus intensif melakukan pemantauan, sudah saatnya THM “nakal” ditindak lebih tegas agar pengusaha THM “nakal” mendapat efek jera, serta temukan oknum “nakal” yang bermain dibelakang mereka.

Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor


Jumat, 02 Maret 2012

Nestapa Dunia

Dimuat di Dakwatuna.com Kamis 1 Maret 2012 
http://www.dakwatuna.com/2012/03/18357/nestapa-dunia/

Pernah kala matahari menyala terang aku berdiri
Menggandeng tangan seorang wanita berkerudung nan cantik
Keringat mengucur tanda teriknya hari
Ku dapatkan usapan lembut tisu di dahiku darinya

Berdua berjalan di sebuah pusat kebudayaan-sebagaimana dahulu dikenal
Bagai berjalan di gurun Sahara
Memasuki jalan-jalan becek mencari tujuan
Tapi ku terheran-heran

Selalu ingin bertanya namun ku ragu
Karena melihat Ibu letih tertatih
Tak bicara hanya melangkah
Kadang berhenti di sebuah tempat lalu berjalan lagi

Tak kunjung bertemu apa yang kucari
Padahal Ibu telah bertemu apa yang dinanti
Dimana? Tak terlihat itu
Yang ada hanya mobil, motor, berantakan menyesaki

Katanya pusat kebudayaan yang kubaca dari buku
Katanya akan kutemukan beragam ilmu yang ku lihat dalam majalah
Musnah, hilang, tak berbekas
Kini bukan itu yang kulihat

Aku hanya melihat sebuah tempat
Ketika orang disana asik bertukar uang dan berjualan
Ketika mobil dan motor berhenti
Di sepanjang jalan

Pasar bukan seperti ini kataku
Mungkin kutemukan nanti kala rakyat tak hanya mengejar materi
Kala Pak Menteri pun belanja disini
Kapankah itu?

Mesti diwujudkan kelak
Entah oleh tanganku atau tangan siapapun itu
Ibu hanya tersenyum melihatku
Seakan ia mendukungku dan merasakan perasaanku

Tak berhenti terik matahari
Berbalikku dari gurun ini ke rumah
Naik becak bersama lebih terasa
Dibanding mobil mewah


Eko Wardaya

Kotaku Tak Lagi Beriman

Dimuat di Dakwatuna.com Selasa 28 Februari 2012
http://www.dakwatuna.com/2012/02/18275/kotaku-tak-lagi-beriman/

Sepanjang jalan tak kudapatkan kesegaran
Tak jua kudapatkan eksotisme alam
Mungkin ada, namun tak menakjubkan mata

Jalan-jalan menjebak banyak manusia
Semua sesak tertawan dan merelakan langkah berikutnya
Diam dan hanya menunggu

Decak kaki berbunyi ketika hujan
Jejak sepatu kotor menghiasi taman-taman perbelanjaan
Kakiku sering terkena kutu air kala hujan menyerang

Semua membuat diri menjadi malas
Segan meninggalkan surga keluarga
Lebih baik tinggal tak bergerak

Apakah dahulu hanya fatamorgana
Ketika ku masih kecil dan dipapah orang tua

Dimana kotaku   
Yang dahulu bersih indah dan nyaman

Dimana pemimpinku
Yang dahulu semangat membangun kota

Tak banyak yang kulihat kini
Tak juga ku mau banyak melihat dunia
dengan berkeliling kota

Sedikit saja ku pergi
Kecewaku ku beriring rindu

Rindu Kota Bogor
Bogor beriman
Bersih, Indah, Nyaman

Ingin pemimpin beriman
Agar kotaku kembali Beriman

Walau masih banyak misteri kota yang belum kulihat
Namun yakinku akan pandangan pertama

Kotaku tak lagi beriman...




Eko Wardaya

PT KAI Harus Bekerja Cermat

Dimuat di Harian Lampung Post Selasa 28 Februari 2012 

Kereta Api sebagai transportasi publik yang paling merakyat, memang mau tidak mau akan terus mengalami kepadatan jumlah pengguna. Sejalan dengan jumlah kepadatan warga Jabodetabek dan jumlah angka kemiskinan. Namun kian waktu dengan terus dilakukannya pembaharuan sistem dan pelayanan nampaknya kereta api masih menyisakkan banyak keluhan di kalangan pernggunanya, hingga bermunculan komunitas-komunitas sosial sebagai wujud controlling terhadap kebijakan pemerintah terkait transportasi rakyat yang satu ini. Kita mengenal nama KRL Mania, mungkin juga ada komunitas lainnya.

Ada beberapa kalangan yang menggunakan kereta api sebagai sarana transportasi namun ada juga kalangan yang menggunakannya sebagai lahan mencari penghasilan. Secara bijak PT KAI sebagai penanggungjawab operaional perlu mencermati keadaan ini. Ssistem dan kebijakan teranyar yang diharapkan mampu mengurangi tingkat kepadatan di kereta api dirasa masih jauh dari ideal. Banyak faktor yang menjadi kendala terwujudnya harapan tersebut.Bukti empirik dapat langsung kita temui apabila kita beberapa kali menggunakan pelayanan kereta api.

Waktu molor dan gangguan kerapkali menghambat laju perjalanan, apalagi jika hanya digunakan satu rel. Tak adanya pembatasan penumpang dalam satu gerbong membuat gerbong perempuan sering dirampas pula. Itu hanya sekelumit ketidaknyamanan yang terjadi di kereta api. Lantas bagaimana dengan kehidupan mereka yang menjadikan kerta api sebagai lahan bekerja? Kebijakan kedepan yang akan menghilangkan anjal, pengamen , dan pedagang dari gerbong harus dicarikan solusi  bagi mereka. Jangan sampai membuat kenyaman pengguna kereta api dengan tidak sadar membunuh kalangan pengguna lainnya (baca: pedagang, pengamen, dan anjal).

Bebagai kerumitan dan kompleksitas masalah di kereta api perlu ditangani lebih ekstra dan cermat oleh PT KAI. Pemberlakukan inovasi melalui kebijakan pun mesti diterapkan perlahan-lahan dengan melihat dampak sistemik yang muncul. Berbicara kereta api, maka kita akan berbicara lebih banyak terkait kelangsungan hidup orang banyak. Apalagi jika diuraikan lebih mendalam. Simpel saja, mengapa orang lebih memilih kerta api di banding bus atau angkot untuk berangkat ke tempat kerja? Padahal di kereta api kita harus berjuang bahkan bukan tidak mungkin keletihan lebih terjadi ketika di dalam kerta api dibanding di tempat kerja mereka.

Satu kata, ekonomi, keadaan ekonomi berimbas pada kelangsungan hajat hidup seseorang. Sehingga seseorang mencari jalan dalam upaya menjangkau kebutuhan hidupnya. Kereta apilah piihan masyarakat menegah ke bawah sebagai transportasinya dalam upaya mereka menjangkau kebutuhan hidupnya. Dengan demikian Pemerintah melalui Kementerian yang bertanggungjawab dan PT KAI sebagai garda terdepan harus sadar bahwa persoalan yang dihadapi bukan sebatas memperbaiki pelayanan publik namun juga memanusiakan manusia, memberikan jalan bagi masyarakat menjangkau kebutuhan hidupnya dengan lebih tenang dan nyaman, bukan menambah kesulitan yang menyebabkan keputusasaan.

Solusi riil dari permasalahan yang ada setidaknya, perlu adanya penambahan armada, pembenahan masalah-maslah teknis seperti molornya jadwal dan sistem eror, adanya pembatasan penumpang dalam gerbong, sterilisasi gerbong perempuan dari laki-laki, terdapatnya petugas keamanan di setiap gerbong, serta alternatif lahan kerja di stasiun bagi pedagang asongan kereta api. Sebenarnya masih banyak solusi yang harus dimunculkan dalam upaya pembenahan dan pemecahan masalah yang ada. Semua kembali kepada kesadaran bahwa masalah di kereta api bukan hanya masalah pelayanan publik semata namun berimbas besar pula nantinya.

 
Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor

Rabu, 22 Februari 2012

Piramida Harapan, Salahkah?

Dimuat di Okezone.com Rabu 22 Februari 2012 
Baru-baru ini pubik digegerkan dengan berita penemuan sebuah benda mirip Piramida yang kabarnya lebih tua dari Piramida Gyza di Mesir. Artinya berumur lebih tua dari 2800 SM. Piramida disebut-sebut terletak di dalam gunung Sadahurip Garut. Staf Ahli Presiden Bidang  Sosial dan Penanggulangan Bencana meyakini keberadaan benda kuno di dalam Gunung Sadahurip. Kini Andi Arif yang memimpin langsung tim Studi Bencana Katastropik berencana melakukan pengeboran guna membuktikan keberadaan benda kuno tersebut yang saat ini dikenal dengan sebutan piramida Garut oleh khalayak ramai.

Terlepas dari kebenaran ada atau tidaknya piramida Garut karena masih on going paling tidak penelitian ini memperkuat fakta-fakta baru tentang sejarah besar Indonesia di masa lalu. Baik zaman pra sejarah maupun zaman sejarah ketika kejayaan Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Masih ada di ingatan kita dengan dua peneliti asing Prof Dr Aryisio Nunes des Santos dan Prof Dr Stephen Oppeinheimer lebih dahulu menyimpukan hasil penelitian mereka bahwa Indonesia adalah benua yang hilang dan Indonesia sebagai pusat peradaban dunia.

Melalui buku berjudul “Atlantis, The Lost Continent Has Finnaly Found, The Definitive Localitazion of  Platos’s Lost Civilitazion” karya Santos dan “Eden in The East” karya Oppeinheimer dibeberkanlah hasil penemuan spektakuler yang mengubah pandangan sejarah dunia. Walaupun kesimpulannya sama, dua peneliti gigih ini mengambil sudut interdispliner dan fokus yang berbeda.

Memang sampai saat ini masih menjadi perdebatan para ahli tentang kedua penemuan tersebut. Banyak yang menyebutnya “dongeng” Atlantis dan sebutan lainnya. Ada pula yang membantah dengan penelitian lain yang sudah terpublikasikan melalui buku seperti halnya Santos dan Oppeinheimer. Namun banyak pula yang memberi apresiasi tentang penemuan mereka, khususnya masyarakat Indonesia.

Bangsa Indonesia yang selama ini mengalami miss identitas karena terpasung oleh identitas dan budaya Barat sangat perlu mengupas sejarah nusantara untuk mengetahui dan mematangkan karakter bangsa yang sesungguhnya. Selama ini kita masih dihadapkan perdebatan sesungguhnya siapa dan seperti apa identitas manusia Indonesia. Peninggalan masa pra sejarah seperti punden berundak dan peninggalan masa sejarah seperti bangunan bercorak Hindu-Budha khas India semakin membingungkan dan memberikan banyak penafsiran. Tak salah jika Prof Dr Jimly Asshiddiqie menyarankan agar tema Atlantis di Nusantara disertakan dalam kurikulum Pendidikan Nasional agar memberi motivasi kepada anak bangsa untuk menggali dan terus menggali sejarah Nusantara.

Bagaimana dengan penemuan sebuah benda kuno (red: piramida) oleh Tim Katastropik bencana? Seperti halnya penemuan Santos dan Oppenheimer, beragam respon dilontarkan para ahli dan masyarakat terhadap Staf Ahli Presiden dan Tim. Hampir di semua media nasional memuat respon negatif para ahli arkeologi dan geologi tentang rencana Andi Arif dan Tim. Para ahli menghimbau Andi Arif untuk tidak bermimpi dikarenakan sampai saat ini tidak pernah ada data arkeologi lokal dan juga indikator adanya piramida di wiayah Asia Tenggara. Terdapat pula ahli yang mengecam rencana pengeboran Gunung Sadahurip yang disinyalir akan membabat uang rakyat. Bahkan sampai-sampai ada ahli yang berpendapat bahwa perilaku Andi Arif tak lain hanya pengalihan isu semata di saat bencana “politik” menimpa partai utama pemerintah.

Kejadian seperti diatas sudah lebih dahulu menerpa Santos dan Oppeinheimer, apabila tak ada kegigihan dari keduanya mungkin hingga saat ini tak ada penemuan spektakuler dari tangan keduanya. Sehingga penulis beranggapan sesungguhnya tak salah apa-apa yang direncanakan oleh Andi Arif bersama tim sebagai tindak lanjut analisa awal penemuan untuk malakukan pembukitan dengan cara mengebor atau apapun bentuknya. Namun ada beberapa hal yang dirasa tidak tepat sehingga memunculkan polemik dikalangan para ahli dan pengamat.

Pertama, penulis berpendapat bahwa Andi Arif sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Penanggulangan Bencana tidak seharusnya memimpin dan memprioritaskan proyek tersebut. Menurut penulis, dikhawatirkan jobdesk utama sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Penangguangan Bencana akan terbengkalai. Padahal saat ini masih sering terjadi bencana alam di tanah air, masih sering terjadi pula keterlambatan penanganan pemerintah atas kejadian alam yang ada. Walaupun Andi Arif telah menyangkal bahwa apa yang dilakukan saat ini merupakan upaya pemetaan bencana di masa lalu sehingga diharapkan kedepannya tak akan terulang kembali.

Kedua, momentum pelepasan isu kepada publik mengenai rencana tindak lanjut terhadap penelitian Piramida Garut tidaklah tepat. Seperti kita telah ketahui bersama bahwa pemerintah saat ini kian sering menerima guncangan dahsyat akibat hancurnya intgritas partai utama pengusung pemerintah yang tak lain dan tak bukan adalah partai Presiden sendiri. Sehingga wajar bila khalayak seakan-akan menilai temuan Andi Arif hanya sensasi semata, dan sebagai rekayasa pemerintah mengalihkan perhatian publik dan media, apalagi ia adalah staf khusus Presiden. Mestinya dipublikasikan ketika telah mencapai tahap akhir kesimpulan, tidak seperti sekarang. Namun mencontoh apa yang telah dilakukan Santos dan Oppenheimer.

Kedua hal diatas adalah peyebab banyaknya respon negatif bermunculan dari para ahli dan pengamat ditambah peran media yang seakan mendukung kecaman-kecaman tersebut. Tapi ingat pendapat-pendapat negatif itu tidak merepresentasikan mayoritas masyarakat Indonesia. Kita belum tahu apa yang akan terjadi bila Piramida itu benar-benar ada, toh tak akan sia-sia pula  bilamana memang tak terdapat piramida di Gunung tersebut. Selalu ada pelajaran dalam setiap kegagalan, seperti yang telah di ajarkan Einstein dan penemu-penemu besar dunia melalui banyak kegagalannya.

Karena bagaimanapun penemuan-penemuan masa lalu kuat relevansinya dengan masa depan suatu bangsa. Sejarah adalah cerminan sebuah bangsa agar mengetahui keemasan atau buruknya mereka di masa lalu. Sehingga mereka dapat merumuskan kejayaan di masa datang. Jangan pernah sekali-kali melupakan sejarah, itu pesan yang dikatakan Presiden pertama republik ini. Penelitian piramida ini layaknya harapan akan terkuaknya sejarah emas Nusantara.


Eko Wardaya
Wakil Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Bogor

Selasa, 21 Februari 2012

JAS MERAH Nusantara

Dimuat di Okezone.com Selasa 21 Februari 2012

Sejarah memberi tahu kita akan baik buruknya masa lalu, sejarah memberikan pelajaran yang amat berharga agar kita dapat mengarungi kehidupan lebih baik di masa datang. Dan jangan sekali-kali engaku melupakan sejarah (JAS MERAH), seperti yang dikatakan Bapak Pendiri Republik ini, Bapak Soekarno. Ia menyadari betul bahwa kesadaran sejarah yang akan membuat bangsa Indonesia terus melaju, namun kealphaan sejarah jualah yang akan menyengsarakan bangsa ini dikarenkan mandeknya roda pemerintahan.

Apa pasal? Pemerintah akan mengulangi kesalahan yag sama, akan sibuk dengan masalah yang sama tiap tahunnya. Dan jikalau benar-benar bangsa ini memahami sejarah, mungkin saja kita akan telah melampaui kesuksesan pendahulu kita, seperti Majapahit dan Sriwijaya ataupun Atlantis sekalipun.

“Dongeng“ Atlantis, itulah salah satu perkataan seorang ahli arkeologi Indonesia terhadap penemuan spektakuler Prof Dr Aryisio Nunes des Santos. Penemuan yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah benua Atlantis yang hilang, Indonesia adalah Pusat Peradaban Dunia dianggap hanyalah wujud sensaional seorang Santos. Tapi apa salahnya jika hal tersebut bermanfaat bagi bangsa ini. Mungkin itu menjadi polemik dikalangan para ahli namun bagaimana masyarakat awam?

Sebaliknya yang terjadi masyarakat awam akan merasa bangga dengan prestasi emas Nusantara di masa lalu. Anak-anak intelektual bangsa akan termotivasi melampaui kesuksesan Indonesia sebelumnya. Bahkan akan menjadi pelecut utama untuk meningkatkan keingintahuan akan sejarah besar yang pernah hinggap di tanah air. Layaknya anak kecil yang selalu meminta diceritakan dongeng sebelum tidur atau bagai anak kecil yang selalu ingin tahu tentang apa yang kali pertama dilihatnya.

Apabila saat ini kita melontarkan pertanyaan tentang sejarah bangsa kepada masyarakat atau mahasiswa (yang lebih intelek), belum tentu mereka mengetahui banyakakan sejarah emas Nusantara. Karena memang dalam pelajaran sejarah yang diberikan kepada kita di sekolah banyak adanya ketiksesuaian. Buktinya adalah bantahan-bantahan berbagai sejarahwan. Ingatlah tentang peristiwa G30SPKI yang ternyata banyak dipelintir pemerintah Orba dalam buku sejarah. Sebelum akhirnya di era Reformasi peristiwa tersebut dikenal dengan sebutan G30S.

Selain itu dalam sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah tak pernah di ungkap kebesaran masa lalu Nusantara. Kebesaran Kerajaan Majapahit yang pernah menguasai tujuh titik perdagangan dunia. Yang berarti maritim digunakan sebagai jalan untuk menyebarkan produk agraria kita. Pernahkah diungkap, agaknya tidak. Yang ada hanya sekelumit pendiriannya dan keruntuhanya saja, sehingga tidak ada manfaat belajar sejarah yang bisa anak bangsa dapatkan.

Maka tepat penulis katakan saran Prof Dr Jimly Asshiddiqie untuk ditindaklanjuti. Yaitu memasukkan tema Atlantis ke dalam kurikulum Pendidikan Nasional. Bahkan tidak hanya itu, penulis menambahkan untuk menyempurnkan lagi dengan sejarah keemasan nusantara yang lebih komprehensif. Sejarah peradaban Nusantara yang disebut Atlantis dan bukti-bukti penemuannya, sejarah keemasan Kerajaan Jawa yang memiliki kekuatan armada laut melebihi China dan mengusai tujuh titik perdagangan dunia. Sejarah Pahlawan bangsa yang baru terkuak seperti Tan Malaka dan sejarah emas lainnya.

Kini masyarakat dihadapkan dalam posisi di tengah kecaman para ahli terhadap rencana pengeboran Gunung Sadahurip Garut. Penulis beranggapan seharusnya publik dapat bersikap dengan mengambil sudut pandang manfaat sejarah. Seperti yang kita ketahui, Tim Katastropik Bencana Purba saat ini sedang melakukan penelitian terhadap Gunug Sadahurip yang dalam analisa awalnya terungkap bahwa terdapat benda kuno di dalamnya. Walaupun belum berani disimpulkan bahwa piramidalah yang terdapat di dalam Gunung tersebut namun sudah menjadi buah bibir bahwa penelitian ini bertujuan mengungkap adanya sebuah piramida yang lebih tua dar piramida Gyza di Mesir yang berumur 2800 SM.

Mungkin penelitian ini dianggap sebuah mimpi dan sensasi tapi betapa besarnya manfaat yang didapat bila terungkap. Bagaimanapun juga penemuan barang kuno adalah harta tak ternilai bagi sebuah bangsa seperti yang telah diungkapkan di muka. Selain itu masih ada manfaat yang didapat kalaupun tak ada benda kuno disana. Karena selalu ada pelajaran dari sebuah kegagalan. Entah pelajaran terkait di bidang keilmuan macam geologi ataupun arkeologi maupun pelajaran berharga lainnya.

Jadi ini adalah sebuah tantangan bagi Tim peneliti untuk dapat membuktikan kebenaran adanya. Dan ini pula tantangan bagi generasi muda bangsa agar terpacu mempelajari sejarah bangsa sehingga diharapkan mampu menjadi generasi yang besar, agar mau terus menggali sesuatu yang belum terungkap secara nayata karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para  pendahulunya. Dan bangsa yang sombong dan akan hancur adalah bangsa yang tak menghargai para pendahulunya. Merekalah yang disebut bangsa mati hati. Yang hanya bisa meyalahkan kegagalan para pendahulunya. Semoga kita semua tidak termasuk kedalam golongan itu, JAS MERAH Nusantara.


Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor


Kamis, 16 Februari 2012

Palestine no P(v)alentine

Dimuat di Dakwatuna Selasa 14 Februari 2012

Luapan perasaan diungkapkan
Cinta, kasih, dan sayang

Gembira ria bersama manusia
Gandeng erat tangan teman
Atau pacar katanya

Berbagi hati maupun materi
Ingin meninggalkan kenangan berarti
Tak terlupa sampai mati

Sayang sungguh sayang
 Jari jemari menari
Ketika anak manusia mati disana

Coklat, biskuit, keju
Bukan pada tempatnya
Berada di telapak manusia lugu

Nyata kebodohan makhluk ini
Perih haru terlihat naif
Tanpa malu

Palestine berduka
P(v)alentine bernyanyi

Bayi menangis disana
Disini Ibu bersenandung

Nestapa negeri terjajah
Bukan Palestine

Tapi negeri P(v)alentine
Terjajah pepesan kosong

Happy freedom Palestine
No P(v)alentine




Eko Wardaya 

Senin, 13 Februari 2012

Aku Mahasiswa

Dimuat di Dakwatuna.com Selasa 6 Maret 2012
http://www.dakwatuna.com/2012/03/18635/aku-mahasiswa/

Tak pernah kutangisi keadaan negeri ini
Tak pernah kuratapi bencana kesejahteraan anak manusia
Karena aku mahasiswa

Akan kuteliti penyakit kemanusiaan yang terjadi
Akan kuberi obat tebaik untuk kesembuhannya
Karena aku mahasiswa

Aku yang selalu mendekap erat cita bangsa
Tanpa menafikkan cinta sesama
Aku yang akan terus mengobarkan mimpi manusia
Tanpa menangis dan hanya meratapi

Karena aku mahasiswa.....

Bogor, 13 Februari 2012


Eko Wardaya

Butuh Solusi Nyata Untuk PKL

Dimuat di Media Indonesia.com Senin 13 Februari 2012
http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/3230

PKL selama Walikota Diani memimpin termasuk ke dalam empat skala prioritas permasalahan yang akan diselesaikan. Selain PKL ada kemiskinan, transportasi, dan kebersihan .Tapi sampai saat ini Pemkot Bogor belum bisa menyelesaikan yang satu ini. PKL di mata Pemkot Bogor telah melanggar aturan Kota, yaitu Perda no 13 tahun 2005 tentang Penataan Pedagang Kaki Lima. Selain itu PKL juga disebut-sebut merupakan biangkerok terhambatnya arus lalu lintas di Kota Bogor. Bahkan Sekdakot BG mengatakan PKL telah mengambil ruang –ruang yang ada.

Apakah benar adanya seperti itu? Mungkin memang benar realita yang terjadi seperti itu, tapi seharusnya pemkot mempunyai kajian lebih mendalam mengenai latar belakang tindakan yang dilakukan oleh PKL. Apabila kita melihat empat skala prioritas permasalahan di Kota Bogor maka akan kita dapatkan korelasi antar permasalahan tersebut.

PKL yang tak tertata akan berimplikasi pada sektor kebersihan dan transportasi. PKL yang tak mendapatkan solusi relokasi akan menyebakan kemiskinan. Mau tidak mau seharusnya pemkot segera menyiapkan tempat relokasi yang sesuai untuk para korban penertiban PKL. Jangan hanya kata tapi butuh fakta solusi nyata. Sangat disesalkan memang apa yang telah terjadi. Banyak PKL mengatakan bahkan tak ada pemberitahuan kapan eksekusi penertiban. Sehingga mereka tidak bersiap diri untuk mengantisipasi.

Alih-alih ingin menegakkan perda tapi Pemkot kini terjebak dalam situasi dilematis bahwa relokasi masih dikaji dan nasib PKL akan terlunta-lunta. Masihkah demokrasi berjalan di Kota ini? Dari oleh dan untuk rakyat...

Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor

Sabtu, 11 Februari 2012

Jangan Kalah dari Karl Marx

Dimuat di Islamedia.web.id Kamis 9 Februari 2012 
Fenomena aktivis dakwah yang berguguran di jalan juang sudah bukan hal baru dalam dunia dakwah. Dinamika dakwah yang luar biasa menyita seluruh energi individu kader tak bisa dielakkan. Hanya yang mampu bertahan yang akan tetap berada dalam perjalanan menuju tegaknya perdaban yang selalu dinantikan. Semakin melaju kencang keluar dari orbit terkecil hingga pancapaian sekarang seharusnya semakin membuat kader sadar bahwa energi harus selalu dilipatgandakn.

Mngkin itu selalu terbesit dalam benak semua kader namun tidak disaat posisi dilematis menghantui mereka. Antara cita dan cinta pilih yang mana? Pembicaraan kali ini akan kita kerucutkan kepada mereka para aktivis dakwah kampus yang akan menatap masa depan kehidupannya pasca amanah di Dakwah Kampus selsesai, pasca gelar sarjana di rayakan dalam seremoni wisuda.

Haru biru yang mewarnai wisuda apakah juga menandakan haru biru mereka akan masa depan dirinya dalam dunia dakwah? Macam-macam, ada yang agaknya lupa karena sibuk interview dimana-mana, senang karena amanah di kampus sudah selesai, bingung mengurusi surat transfer kepindahan halaqoh, dan lain-lain.

Saya rasa pembaca pernah mendengar orang-orang di luar sana mencibir terkait perilaku mantan-mantan pendakwah di kampus masing-masing. “Bukannya dia ikhwan ya? Koq sekarang pacaran?” atau “Dia akhwat kan? Sekarang sudah mengenakan celana panjang dan jlbabnya sudah tak lebar lagi!”. Begitulah yang terjadi, apa penyebabnya, banyak faktor.

Yang kali ini saya akan bahas adalah tipe aktivis yang bingung memilih antara cita-cita pribadi dengan cintanya pada Dakwah. Seperti telah disebutkan di muka, antara cita dan cinta pilih mana? Pilihan ini akan sangat menentukan keberlanjutan hidup seoarang aktivis dakwah bukan hanya kelanjutan aktivitas tarbawinya saja.

Jika ia egois dan memilih cita-cita bukan tidak mungkin ia adalah bagian dari prajurit yang gugur di medan dakwah dan menjadi orang seperti diatas dimana perilakunya sudah menunjukkan kepergiannya dari lingkaran cinta. Kecuali ia sudah mempersiapkan perencanaan dakwah selanjutnya. Tapi sekali lagi jika ini adalah pilihan egoisme pribadi. Yang kedua ia yang memilih menekan egoisme pribadi dengan memilih cinta, apa yang akan terjadi padanya? Mari kita melihat kisah seorang yahudi ini, ia adalah Karl Marx.

Karl Marx adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik, dan sosiolog yang pemikiran-pemikirannya mampu berpengaruh sampai saat ini. Yang dikenal dengan teori marxis dan lain sebagainya. Ia hidup miskin selama hidupnya dan hampir tak mampu bertahan hidup dengan sedikitya pendapatan dari tulisan-tulisannya dan bantuan Engel sahabatnya. Semasa hidup ia mengabdikan diri pada petualangan politik dan intelektualnya. Ia aktif di gerakan pekerja internasional untuk melakukan berbagai gerakan Revolusi sebagaimana yang ia yakini dan ia tulis. Ia mati dengan meninggalkan jejak sejarah yang mampu menggerakkan manusia.

Kisah Marx diatas bukan dimaksudkan untuk kita mengagguminya, namun kita akan ambil sebuah pelajaran dahsyat dari seorang Marx. Terlepas dari pemikirannya, Karl Marx yang seorang Yahudi saja berani dan yakin memilih cinta dan masuk pada lahan-lahan perjuangan. Padahal bisa saja ia memilih hidup nyaman sehingga ia tak akan hidup sulit.

Inilah yang akan didapatkan dari pilihan cinta. Melihat realita kebanyakan aktivis dakwah kita patut bertanya mengapa para aktivis dakwah tidak bisa seperti Marx, padahal sudah dijamin oleh Allah dalam berbagai firman-Nya, salah satunya :

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu (Surat Muhammad ayat 7)
                           
Kita bisa lebih hebat dari Marx karena kita umat Muslim, karena kita Aktivis Dakwah. Masihkah kita ragu akan janji Allah? Sudah banyak para pendahulu membuktikannya. Dan keyakinan Marx akan perjuangannya adalah cambuk buat kita sebagai umat Muslim khusunya para aktivis dakwah yang melepaskan cintanya pada perjuangan dakwah. 


Eko Wardaya

Rabu, 08 Februari 2012

Selidiki BPPTM!

Dimuat di Media Indonesia.com Senin 6 Februari 2012
http://www.mediaindonesia.com/citizen_read/3186

Lagi-lagi muncul kasus yang terkait dengan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) setelah beberapa kali mewarnai kekisruhan antara pemerintah dan masyarakat atau antar masyarakat. Pembangunan showroom Madza yang terletak di Jalan Padjajaran IMB-nya belum kelar tapi sudah mencapai tahap 80%. Siapa yang memberikan legalitas pelaksanaan pembangunan tersebut?

Masih teringat kasus THM “nakal” yang digugat elemen ormas Islam sebelum ramadhan tahun lalu. Yang diduga tak mengantongi izin sesuai peruntukannya. Selanjutnya kisruh GKI Yasmin yang telah mengantongi IMB tapi dicabut Walikota karena ada masalah dalam proses meraih perizinan. Sampai hari ini pun masih menggantung. Bagaimana sebenarnya IMB diperoleh, mengapa seakan-akan mudah mendapatkannya? Atau begitu mudahnya diberikan tanpa melihat realitas di lapangan?

Bagaimanapun Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal (BPPTM) adalah lembaga yang mengeluarkan IMB untuk selanjutnya disahkan oleh Walikota. Maka seharusnya BPPTM patut di selidiki, adakah “permainan” disana yang pada akhirnya sering memunculkan sengketa berkaitan dengan IMB?


Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor

Minggu, 05 Februari 2012

Pemerintahan Tak Beretika

Dimuat di harian Lampung Post 4 dan 6 Februari 2012 

Gonjang-ganjing judgemen berbagai element rakyat terhadap kinerja pemerintah bukan semata angin lalu. Tapi sebuah bahan introspeksi atas tindak tanduk pemerintah dalam menjalankan amanat rakyat yang telah diberikan dalam pesta Demokrasi empat tahunan. Pesta yang katanya meriah karena sangat mahal. Kepemimpinan incumbent seharusnya mematangkan konsepsi pemerintahan untuk mencapai visi yang telah dibuat sebelumnya bukan sebaliknya.

Jika prinsip demokrasi adalah dari oleh dan untuk rakyat, kini mengapa seakan-akan pemerintah mengabaikan dan tak mendengar rakyat. Bahkan saat ini ketidakpercayaan publik sudah masuk dalam tataran praksis di lapangan. Tindakan protes nyata, tak lagi dengan suara tapi tangan yang berkata. Sampai-sampai rakyat harus turun langsung membakar kantor Bupati seperti yang dilakukan di Bima dan buruh Bekasi memblokade jalan tol dengan pasukan lebih dari 10.000 orang.

Agaknya rakyat yang sudah kehilangan ekspektasi terhadap wakilnya di DPR tak punya jalan lain kecuali harus melakukan demokrasi langsung seperti pada penerapan di Yunani Kuno dahulu. Langsung berbicara kepada pemimpin negara.

Harapan akan terwujudnya good governance tapi malahan terjebak dalam sebuah penyelengaraan tak beretika, padahal etika pemerintah adalah dasar yang dibutuhkan dalam mewujudkan harapan tersebut.

Etika Pemerintahan
Good Governance mengandung dua arti, pertama menjunjung tinggi nilai luhur yang hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berhubungan dengan nilai-nilai kepemimpinan. Kedua, pencapaian visi dan misi secara efektif dan efisien.

Sedangkan etika pemerintahan selalu berkaitan dengan nilai-nilai keutamaan yang bersinggungan dengan hak-hak warga negara. Nilai-nilai keutamaan tersebut diantaranya penghormatan terhadap hidup manusia dan HAM, keadilan dan kepantasan terhadap orang lain, kekuatan moralitas, ketabahan, serta berani, kesederhanaan dan pengendalian diri,  termasuk nilai agama dan sosial budaya.  

Bagaiman Pemerintahan Saat Ini?
Soe Hok Gie pada masa orde baru pernah mengkritik pemerintahan Soeharto dengan sebutan Pemerintahan Yang Tak Menarik (16/7/1969), salah satunya ia menggambarkan sosok fisik Soeharto yang tak menarik dan tak memiliki kemampuan komunikasi massa layaknya seorang pemimpin, kala itu Soekarno seakan jadi pembandingnya. Soe menyebutkan dengan visi pemerintahan yang semakin besar seharunya pemerintah berusaha lebih keras dalam mengajak semua elemen negara untuk mewujudkannya. Dibutuhkan pemimpin yang mampu mengkonversi komunikasi menjadi penggugah hati rakyat untuk bergerak bersama membangun cita.

Kini hal serupa terjadi, semenjak era reformasi bergulir belum ada pemimpin yang seperti itu, pun juga SBY. Yang ada SBY banyak mengeluh di depan kamera media atau di tulisan-tulisan wartawan. Bongkar pasang kabinet mungkin dinilai untuk mendongkrak kinerja pemerintah tapi SBY lupa, pemerintah tak bisa berjalan sendiri tanpa rakyat tapi rakyat bisa.

Boleh jadi keluhan-keluhan SBY merupakan cara menarik simpati rakyat agar rakyat tergerak hatinya sehingga mau bergerak bersama membangun Indonesia. Sayangnya rakyat sudah muak dengan berbagai hal pencitraan yang sering dilakukan presiden kita. Jurus jitu pencitraan SBY di mata rakyat kian hari kian kandas.

Pelanggaran HAM masih menyisakkan berbagai kasus dari kasus lampau seperti tragedi 1998 sampai kasus HAM anyar seperti Mesuji. Keadilan ternodai dengan maraknya diskriminasi rakyat dalam hal pendidikan maupun agama. Coba kita tengok pendidikan rakyat miskin yang seadanya sangat jauh berbeda dengan rakyat berkemampuan. Dan sulitnya jemaat GKI Yasmin beribadah sehingga terlunta-lunta sampai saat ini.

Bahkan baru-baru ini disaat rakyat dihebohkan pengerukan rupiah oleh anggota DPR melalui proyek yang ada, ternyata diam-diam pemerintah juga bermain di lahannya sendiri. Ditemukan nilai fantastis untuk sebuah tempat parkir sebesar 12,3 miliar. Empat kali lipat jumlah yang dikeluarkan untuk tempat parkir DPR.  Pertunjukan itu dengan jelas memperlihatkan kepada kita tak adanya kesederhanaan dan pengendalian diri pemerintah mengelola anggarannya, bukannya berhemat untuk rakyat.

Masih banyak lagi fakta miris perilaku pemerintahan yang jauh dari nilai etika seperti telah penulis uraikan di muka. Menyedihkan, apabila nilai-nilai keutamaan etika pemerintahan sudah dilanggar, maka pantaslah pemerintahan kali ini di stempel cap “Pemerintahan Tak Beretika”. Tak usahlah jauh-jauh bermimpi mewujudkan good governance.

Harusnya pemimpin terpilih berusaha membayar hutang pesta Demokrasi yang teramat mahal itu dengan bukti janji-janjinya masa kampanye. Bukan membayar hutang pada partainya atau koalisi pendukung pemerintah.



Eko Wardaya
Wakil Ketua KAMMI Bogor